Kamis, 30 Januari 2014

Pemerhati yang Kangen Nulis (lagi) tentang Fatin



Sudah lebih 3 bulan saya tak menulis artikel tentang Fatin. Terakhir artikel berjudul “Fatin ternyata masih kerabat Michael Jackson” saya posting tanggal 1 September 2013. Setelah itu saya masih sempat menulis 2 artikel lagi diluar tema tentang Fatin hingga pertengahan Oktober. Selama itu juga hingga artikel ini diposting, hanya sesekali saya mengintip kanal hiburan Kompasiana. Selain karena kesibukan yang membuat waktu luang untuk menulis semakin berkurang, saya juga berpikir sudah banyak pemerhati dan penggemar setianya yang rajin menulis tentang remaja putri ajaib itu.  
Namun ternyata dugaan saya sedikit meleset setelah beberapa hari terakhir saya kembali mencoba mengintip kanal hiburan Kompasiana. Tulisan tentang Fatin yang dulu sangat mendominasi dengan jumlah pembaca dan komentator yang membuat para penulis bersemangat untuk terus menulis, kini hanya ada beberapa artikel tentang Fatin. Jumlah pembaca dan komentatornyapun tak mencapai angka ribuan seperti beberapa bulan yang lalu. Beberapa tulisan yang masih adapun banyak yang mempertanyakan sekaligus mengkritisi mengapa kanal hiburan Kompasiana yang dulu sempat menjelma menjadi “Fatinsiana”, kini kurang berwarna dengan berkurangnya artikel tentang Fatin.
Ada yang mengkritisi mungkin para pemerhati dan penggemar yang dulu rajin menulis tentang Fatin sudah mulai bosan, jenuh dan tak bisa menemukan hal-hal baru dan menarik dari Fatin yang bisa diangkat menjadi tulisan. Sebagai pemerhati setia Fatin, saya tetap mencoba berpikir positif menyikapi hal ini meskipun tak bisa dipungkiri kepedulian saya juga terusik untuk ikut kembali beropini meski mungkin baru bisa lewat satu tulisan ngelantur ini.
Dulu saat Fatin masih bertarung dalam ajang pencarian bakat X Factor Indonesia (XFI), penggemar dan pemerhati Fatin dibuat penasaran plus deg-degan dengan apa yang akan terjadi di setiap episodenya. Lagu apa yang akan dibawakan, bagaimana penampilannya, apakah tak lupa lirik lagi dan akankah Fatin bisa terus bertahan hingga Grand Final? Semua itu menjadi bahan diskusi menarik dan seolah tiada habisnya, tak hanya antar sesama penggemar Fatin tapi justru lebih seru dengan para pembencinya.
Usai gelaran XFI, setelah Fatin resmi terpilih sebagai juara, kita semua kembali dibuat penasaran dan bertanya-tanya bagaimana langkah Fatin selanjutnya. Bagaimana kiprahnya nanti di dunia musik tanah air bahkan internasional, kapan album Fatin keluar, seperti apa albumnya nanti, berapa banyak lagu berbahasa Inggris di album tersebut, dan masih banyak lagi pertanyaan serta pernyataan yang kembali menjadi bahan diskusi menarik. Ketika itu baru single Aku Memilih Setia yang release disusul single religi Kekasihmu. Dua single ini terutama AMS mampu mencuri perhatian penikmat musik tanah air.
Kepopuleran Fatin dengan AMSnya disusul dengan makin banyaknya permintaan untuk manggung di berbagai acara di berbagai daerah dan beberapa stasiun TV lokal. Dengan jadwal yang begitu padat, Fatin dibawah label Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI) juga mengerjakan album perdananya yang kemudian diberi judul “For You”. Tak hanya itu, entah memanfaatkan momentum atau memang tema cerita yang nyambung dengan sosoknya, Fatin ikut terlibat dalam pembuatan film 99 Cahaya di Langit Eropa yang kini juga sudah tayang di bioskop. Hampir setiap hari tulisan tentang Fatin baik berita maupun artikel menghiasi berbagai media terutama online.
Namun harus diakui, sebagai makhluk yang punya perasaan, kejenuhan pasti pernah dialami setiap orang. Hal yang sangat manusiawi. Apalagi jika dihadapkan pada aktivitas yang sama dan situasi yang cenderung stagnan minim dinamika. Apalagi jika apa yang sangat diidam-idamkan sudah tercapai dan bisa dinikmati. Kini album Fatin sudah bisa dinikmati, demikian pula dengan film yang memasangnya sebagai cameo sekaligus pengisi theme song. Fatin kembali disibukkan dengan promo album, nobar film serta show di sana-sini dengan berbagai pemberitaan yang mengikutinya.
Mungkin saat ini para pemerhati dan penggemar Fatin yang dulu terangsang untuk beropini akibat suasana yang belum pasti tentang bagaimana Fatin nanti, kini memilih untuk menikmati dan memantau apa yang telah dicapai Fatin dengan album dan filmnya sejauh ini. Ekspose pemberitaan aktivitas Fatin di berbagai media saat ini, yang pastinya merupakan strategi pemasaran label dan produser film, mungkin sudah cukup menjawab rasa ingin tahu bagaimana Fatin saat ini.
Tapi bukan berarti penggemar militan Fatin tinggal diam menikmati begitu saja. Sepinya artikel dengan berbagai komentarnya di Kompasiana bukan berarti mereka tak berbuat untuk Fatin. Rupanya saat ini mereka lebih memilih tindakan nyata daripada hanya berwacana. Setidaknya ini bisa dilihat dari antusiasme penggemar Fatin di beberapa acara yang dihadirinya, baik itu sekedar promo di gerai fried chicken yang memasarkan albumnya ataupun di berbagai show yang menghadirkannya.
Sebagai pemerhati Fatin yang masih kangen ingin selalu menulis tentangnya, saat ini saya lebih banyak memilih untuk menikmati dan mengapresiasi apa yang telah dicapai Fatin sejauh ini. Alhamdulillah, meskipun harus berjuang dan menunggu 2 minggu lebih, karena tak ikut pre order, akhirnya saya bisa memiliki dan menikmati CD album perdana Fatin. Di tempat saya tinggal tak ada toko kaset/CD besar, yang ada hanya lapak VCD/DVD kaki lima. Gerai ayam goreng resmi yang ditunjuk itu pun rupanya kebagian jatah kiriman CD belakangan. Demikian pula untuk menonton filmnya, mungkin saya harus mencari waktu yang tepat ke Surabaya atau Malang sebab di daerah tempat saya tinggal tak ada gedung bioskop kelas 21 apalagi XXI. 
Sebagai pemerhatinya saya juga punya beberapa harapan untuk Fatin dan pihak-pihak yang berkepentingan di sekelilingnya. Semoga Fatin terus memperbaiki penampilan dan tehnik vokalnya, mengurangi menyanyi lagu orang lain dan lebih mendalami lagu-lagu di albumnya . Lucu juga kalau sampai lupa lirik lagunya sendiri. Akan menjadi suatu nilai tambah jika ia mampu memainkan satu alat musik bahkan menciptakan lagu dan mengaransemennya sendiri. Di usianya yang masih sangat belia semua masih sangat mungkin terjadi. Mudah-mudahan Fatin juga lebih selektif menerima tawaran yang datang dengan tetap mempertimbangkan keterbatasannya sebagai manusia dan dampaknya pada kepuasan para penggemar atas penampilannya.
Semoga pihak label rekaman dan pihak lain yang berkepentingan juga bisa lebih bijak menyikapi popularitas Fatin saat ini dan tak menjadikannya sebagai komoditas untuk mengeruk keuntungan jangka pendek. Fatin punya potensi besar yang masih harus terus digali dan diasah untuk perkembangan kariernya yang masih panjang. Di usianya yang masih sangat muda dengan semua pencapaiannya hingga saat ini, Fatin masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk membuktikan eksistensinya di jagat hiburan tanah air bahkan mancanegara.
Dan akhirnya untuk rekan-rekan penggemar setia Fatin, terus support Fatin dengan cara yang elegan, santun dan bermartabat. Dukung Fatin secara wajar dan proporsional, tentunya bukan dukungan membabi buta dengan semua pembenarannya. Berikan kritik dan masukan yang membangun dan masuk akal untuk perkembangan karier Fatin ke depan, sebab akhirnya kita semua yang akan menikmati dan mengapresiasi hasil karya Fatin berikutnya. Kita tunggu saja.

Probolinggo, 7 Desember 2013
Follow me on twitter : @Dody_Kasman

Fatin Ternyata Masih Kerabat Michael Jackson



Fatin Shidqia Lubis dan Michael Jackson adalah 2 (dua) nama yang tak perlu diragukan lagi popuraritasnya. Meski harus diakui dalam hal banyak hal Fatin harus banyak belajar dari sang raja pop dunia itu. Keduanya juga memiliki karakter vokal khas yang sangat mudah dikenali begitu kita mendengar suaranya. Dan ada satu hal yang cukup mengejutkan, ternyata Fatin masih kerabat Michael Jackson! Mereka berdua punya “Mbah” yang sama, namanya SONY.
 Fatin dan Michael Jackson berada di bawah label rekaman yang sama, Sony Music Entertainmet (SME). Fatin dibawah label Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI) yang merupakan anak perusahaan Sony Music Entertainment, label rekaman global berkedudukan di New York yang juga menaungi Michael Jackson. Sementara SME berada di bawah Sony Corporation of America yang merupakan anak perusahaan Sony Corporation Japan.
Jika Fatin masih beberapa bulan saja menjalin kemitraan dengan Sony Music, maka Michael Jackson sudah puluhan tahun berada di bawah bendera Sony Music, bahkan hingga kini di saat ia telah tiada. Fatin baru punya 2 (dua) single resmi bersama Sony, sementara Michael bersama Sony Music sudah menghasilkan beberapa album dan puluhan bahkan ratusan single yang terbukti banyak menjadi hits dunia.
Album Thriller Michael Jackson suskses menjadi album terlaris sepanjang masa yang masih bertahan hingga kini. Album Bad sempat menjadi album terlaris kedua sepanjang massa. Disusul Dangerous yang menjadi album terlaris di awal dekade 1990an. Demikian juga dengan dobel album HIStory yang mencetak angka penjualan fantastis, meskipun mengalami penurunan di banding album-album sebelumnya. Album Invincible di awal abad 20, juga mendapat respon positif dan cukup sukses dipasaran, meskipun angkanya masih dibawah standard untuk ukuran seorang megabintang sebesar Michael Jackson. Invincible menjadi album solo terakhirnya hingga ia wafat tanggal 25 Juni 2009.
Meski berada di bawah Sony Music, tapi Michael Jackson yang terkenal perfeksionis itu ingin lebih bebas berkreasi. Iapun mendirikan perusahaan pribadi bernama MJJ Production dengan label rekaman MJJ Music yang masih berada di bawah bendera SME. Setidaknya dengan cara ini ia bisa lebih bebas mengatur sendiri banyak hal terkait rekaman lagu, video klip, film dan berbagai pertunjukannya.
Tentunya, sebagai label rekaman terbesar kedua dunia, Sony Music punya standar dalam hubungan dengan artis-artis yang berada dalam manajemennya serta bagaimana memperlakukan mereka sehingga bisa menghasilkan karya yang juga sesuai standar perusahaan. Sony Music juga sukses melahirkan performer hebat dunia seperti Justin Timberlake, Britney Spears, Calvin Harris, Avril Lavigne, Alicia Keys, Audioslave hingga One Direction.  
Terus terang saya Ikut puas dan bersyukur ketika Fatin terpilih menjadi juara X Factor Indonesia (XFI) dan mendapat hadiah kontrak rekaman eksklusif dengan SMEI. Itu berarti dua idola saya berada dalam satu label rekaman yang sama, suatu kebetulan yang menyenangkan bagi saya pribadi. Pada awalnya saya lega Fatin diproduseri sekaligus dimanajemeni Sony Music, label yang puluhan tahun ikut andil membentuk karakter dan musikalitas megabintang sekelas Michael Jackson. Setidaknya saya tahu bagaimana standar musik Sony dari lagu dan album yang sudah dihasilkan Michael dengan seabrek prestasi dan penghargaan yang telah diraih.
Tanpa bermaksud menuntut terlalu tinggi, saya sempat berpikiran jauh ke depan tentang karier Fatin. SMEI adalah perusahaan rekaman nomor 1 (satu) di Indonesia yang merupakan anak perusahaan SME. Bukan tidak mungkin, jika mampu membuktikan eksistensi dan kualitasnya sebagai bintang besar Indonesia serta mampu memenuhi standar yang ditentukan SME, Fatin akan diberi kesempatan untuk berkiprah di level lebih tinggi, dunia, alias go internasional.
Khayalan saya tak berhenti disitu saja. Sony adalah perusahaan multibisnis dunia yang juga mempunyai divisi film yakni Sony Pictures dengan banyak anak perusahaan seperti Columbia Pictures, TriStar Pictures, MGM, Screen Gems dan masih banyak lagi anak perusahaan lainnya. Bukan tidak mungkin lagi, jika Fatin suatu saat nanti juga ditawari main film produksi Sony. Beberapa contoh artis Sony yang sukses merambah film adalah Justin Timberlake dan Alicia Keys. Dan bukan tidak mungkin lagi, Fatin nantinya akan menjadi model iklan produk-produk Sony.
Itu semua memang hanya khayalan saya saja sebagai seorang pemerhati Fatin. Mimpi yang mungkin bagi sebagian orang sangat utopis. Tidak mungkin? Mungkin saja. Jika kita kembali ke belakang, bahkan mungkin Fatin sendiri dulu tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi sosok remaja putri sukses dan paling populer saat ini. Dari bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kini menjadi artis remaja dengan karier yang kian mengkilap.
Apapun masih mungkin saja terjadi, jika kita melihat potensi besar yang dimiliki Fatin. Tinggal bagaimana mengoptimalkan potensi tersebut dengan kemauan untuk terus berlatih memperbaiki penampilan didukung manajemen yang paham betul apa yang harus dilakukan pada artis sebagai mitranya. Tentunya semua butuh proses dan tak bisa dipaksakan.
Sebagai penyanyi, kualitas vokal menjadi faktor yang sangat penting, selain Faktor X yang ikut andil mengantarkan Fatin menjadi jawara XFI. Agar dapat terus bertahan di tengah ketatnya persaingan industri musik, kualitas vokal yang baik harus terus dipertahankan disamping variasi pada aransemen dan genre yang dapat terus berkembang seiring tuntutan pasar.
Sangat disayangkan jika karakter vokal Fatin yang sangat khas itu kemudian menjadi kurang maksimal bahkan “rusak” karena suatu hal yang sebenarnya dapat dimanage lebih baik lagi, seperti padatnya jadwal kegiatan yang pada akhirnya mengakibatkan kelelahan dan berpengaruh pada kualitas vokal Fatin. Tanpa harus menunjuk siapa yang paling bertanggung jawab, jika diamati beberapa penampilan terakhir Fatin, nampak sekali dia kelelahan, kemampuan untuk mencapai nada tinggi dengan nafas panjang yang dulu sering kita nikmati saat Gala Show hingga Grand Final XFI, kini jarang bisa kita dengar.
Memang yang paham bagaimana kondisi diri Fatin adalah Fatin sendiri, dan yang tahu bagaimana harus me-manage penampilan Fatin adalah manajemennya dari SMEI. Tentunya sudah ada jalinan koordinasi yang baik diantara keduanya sebagaimana kontrak yang telah disepakati bersama. Tapi, demi menjaga kualitas vokal dan penampilan Fatin yang tentu saja merupakan aset berharga Sony, tentunya keduanya bisa saling berkomunikasi jika dirasa ada sesuatu yang kurang dan dapat mengurangi kualitas penampilan Fatin.
Michael Jackson sendiri tercatat sering menunda penampilannya karena kondisi yang kurang fit. Percuma baginya memaksakan tampil tapi tidak maksimal, lebih baik ditunda sehari untuk istirahat dan tampil keesokan harinya dengan kondisi yang lebih fresh. Ini pernah dilakukannya saat Dangerous World Tour di Singapura tahun 1993. Ia membatalkan konser 1 (satu) jam sebelum show dimulai,  padahal penggemarnya sudah memadati National Stadium Singapura. Konserpun ditunda sehari dan ia bisa tampil memukau membayar kekecewaan penggemarnya tanggal 29 Agustus 1993 yang bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 35.
Itu hanya sekedar contoh, Fatin tak perlu dan mudah-mudahan tak pernah sampai melakukan pembatalan semacam itu. Oleh karena itu, Fatin sendiri harus dapat menjaga kondisi dirinya sendiri agar kualitas vokalnya tetap terjaga bahkan bisa lebih baik lagi. Pihak manajemen hendaknya juga mempertimbangkan kondisi fisik dan psikis Fatin dalam menyusun jadwal kegiatan yang harus dijalaninya.
Tentu itu semua hanya sekedar saran dari pemerhati Fatin yang juga seorang MichaelMania. Semuanya kembali pada Fatin, orang-orang terdekatnya dan tentu saja pihak manajemen yang pastinya tahu apa yang terbaik untuk Fatin dan juga memberikan “manfaat” untuk pihak label rekaman.
Dan hingga kini, sebagai penggemar Michael Jackson yang telah puluhan tahun menikmati karya-karyanya yang notabene produksi Sony Music, saya menanti album perdana Fatin dan album-album berikutnya. Semoga single dan album Fatin nanti kualitasnya menyamai bahkan bisa melebihi kualitas lagu dan album yang telah dihasilkan Michael Jackson. Semoga...

Probolinggo, 1 September 2013
Follow me on Twitter : @Dody_Kasman






.


 

Terima Kasih Fatin...



Fatin Shidqia Lubis tak terbantahkan telah menjadi sosok remaja putri paling pouler saat ini. Ketika artikel ini saya tulis, diskusi di berbagai media sedang ramai membahas segala sesuatu terkait keikutsertaan Fatin pada ajang X Factor Around The Worlds (XFATW) yang digelar Sabtu (24/8).
Sebenarnya saya ingin ikut berpartisipasi meramaikan diskusi tersebut, setidaknya memberikan beberapa saran dan masukan untuk Fatin dan Fatinistic. Tapi begitu saya membuka kanal hiburan Kompasiana niatan tersebut perlahan pudar setelah mendapati sebagian besar artikel didalamnya membahas tentang Fatin dan XFATW. Apa yang ingin saya sampaikan, sebagian besar sudah terwakili tulisan rekan-rekan Kompasianer yang lain.
Namun demikian hasrat untuk menulis tentang Fatin masih tinggi sehingga sayapun memutuskan untuk tetap menulis dengan topik yang lain. Artikel yang mungkin lebih bersifat subyektif dalam melihat dan menilai Fatin, dari sudut pandang saya pribadi sebagai pemerhatinya. Tulisan yang mungkin narsis, alay dan egois. Tapi setidaknya lewat tulisan kali ini, saya mencoba untuk jujur mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikiran ini.
Di tengah besarnya ekspektasi publik terutama Fatinistic disertai saran dan masukan terhadap keikutsertaan Fatin di ajang XFATW, saya memilih dan memang harus mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Fatin. Mengapa? Karena harus saya akui, Fatin merupakan salah satu alasan dan sebab atas beberapa hal yang luar biasa dan tak terduga yang telah saya alami.
Dan sebelum membahas lebih jauh, tentu saja yang pertama, saya wajib beryukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan anugerah yang telah diberikan pada saya, kemudian pada keluarga, kerabat dan rekan-rekan yang telah memberikan support berupa kritik saran dan masukan yang ikut andil mengantar saya pada pencapaian sejauh ini.
Fatin? Terserah saya mau dibilang alay, tapi memang Fatin juga jadi salah satu faktor pendukung atas apa yang telah saya capai sampai saat ini. Karena Fatin saya kembali berhasrat untuk menulis, dan karena Fatin saya kembali aktif berkicau di twitter. Fatin kembali menggugah hasrat menulis setelah sekian lama pudar karena mutasi yang harus saya jalani.
Selama 5 (lima) tahun, tugas liputan dan tulis menulis sudah menjadi makanan sehari-hari saya di tempat tugas yang lama. Pencitraan pemerintahan daerah lewat bermacam tulisan sudah menjadi bagian tugas yang harus saya jalani karena memang sudah menjadi bagian dari  tugas pokok dan fungsi (tupoksi)). Namun aktivitas tersebut akhirnya harus teralihkan ke bentuk lain setelah saya dimutasi ke tempat tugas sekarang, dengan tupoksi, program dan kegiatan yang cukup jauh berbeda dari sebelumnya.
Di tempat tugas baru, tulis menulis yang terkait tupoksi hanya sebatas penyusunan usulan, progress kegiatan dan laporan hasil pelaksanaan kegiatan serta laporan-laporan lain yang sifatnya insidentil. Meskipun masih harus turun ke lapangan, tapi intensitasnya tak sepadat ketika tugas liputan seperti dulu yang seolah tak kenal waktu pagi, siang dan malam. Sekarang lebih banyak waktu senggang di rumah.
Dan entah memang kebetulan atau memang sudah “terencana”, kepindahan saya ke tempat tugas baru nyarus bersamaan dengan dimulainya babak audisi X Factor Indonesia (XFI). Jika di awal-awal ada perasaan kurang nyaman karena harus alih tugas, namun kemudian secara perlahan perasaan tersebut sirna dan malah sangat saya syukuri. Seandainya saya masih bertahan di tempat tugas lama, hampir bisa dipastikan tak akan banyak waktu untuk bisa mengikuti perjalanan Fatin di tiap episode XFI mengingat padatnya jadwal kegiatan pemerintah daerah jelang Pemilukada ketika itu. Syukur Alhamdulillah, di tempat tugas yang baru dengan jam kerja yang teratur, tak satupun episode XFI yang terlewat sejak babak audisi hingga Grand Final. 
Pada masa awal bertugas di tempat yang baru, aktivitas menulis khususnya artikel sempat terhenti cukup lama. Namun kemudian gairah untuk menulis kembali muncul seiring dimulainya ajang pencarian bakat X Factor Indonesia (XFI). Tapi bukan XFInya yang membuat saya kembali terangsang untuk menulis artikel, tapi salah satu peserta yang menurut saya waktu itu cukup unik dengan penampilan dan karakter suaranya yang sangat khas. Ya, Fatin mampu meyakinkan saya bahwa dia memang layak mendapatkan support dan pantas untuk menjadi idola.
Ketertarikan pada sosok Fatin yang cukup”aneh” waktu itu yang akhirnya menggiring saya untuk menjadi pemerhati dan memberikan support untuknya, tentu saja dengan cara saya, lewat pencitraan dan pembentukan opini publik lewat tulisan. Tapi tak mungkin saya titip tulisan tentang Fatin untuk dimuat di media pemerintah daerah sebagaimana sering saya lakukan dulu. Akhirnya saya memilih membuat akun di Kompasiana untuk berbagi opini serta berdiskusi lewat media warga yang populer ini.
Support lewat tulisan sepertinya merupakan pilihan paling tepat dan efektif, sebab dengan alasan jarak dan biaya hampir tak mungkin saya bisa datang tiap Jum’at malam ke Studio 8 RCTI memberikan support langsung untuk Fatin bersama rekan-rekan Fatinistic yang lain. Jadi, meskipun saya tak bisa ikut langsung mengawal secara fisik dan meneriakkan yel-yel dukungan untuk Fatin, setidaknya suara dukungan saya untuk Fatin masih terdengar di Kompasiana. Dan di awal gelaran XFI saya tak sendiri, ada beberapa Kompasianer seperjuangan seperti Orang Mars, Udjo Freak, Nina Mahbubah, Arief Firhanusa, Firman Maulana dan rekan-rekan pemerhati Fatin yang lain.
Karena Fatin juga, ketertarikan pada jejaring sosial Twitter kembali muncul setelah beberapa tahun akun twitter saya vakum dengan hanya beberapa kali kicauan dan minim follower. Sebelumnya saya memang lebih aktif sebagai Facebooker, tapi sebatas pertemanan dengan rekan kerja serta teman-teman masa sekolah dan kuliah. Seiring makin ramainya diskusi tentang Fatin, dan untuk kebutuhan publikasi dukungan, akhirnya saya putuskan membuat akun twitter baru @Dody_Kasman yang ketika itu lebih konsen pada segala hal tentang Fatin.
Di Twitterland inilah saya kenal banyak tweeps pemerhati Fatin yang kemudian terkenal dengan sebutan Fatinistic. Terima kasih tak lupa saya sampaikan untuk adik-adik pemrakarsa nama Fatinistic, yang berdasarkan kisah yang sudah saya baca di Kompasiana sangat gigih mendukung dan mengawal langsung Fatin mulai masa Gala Show hingga jadi juara XFI.
Tapi Jika boleh saya tegaskan kembali bahwa Fatin kini bukan hanya milik kelompok tertentu. Demikian pula Fatinistic, tak terbatas usia, golongan atau seberapa mereka “merasa”dekat dengan Fatin, karena... Kita semua adalah Fatinistic. Kalaupun ada yang mengatasnamakan asal daerah, kesamaan hobby ataupun kesadaran karena usia yang sudah tak terbilang muda, itu membuktikan bahwa Fatin memang milik semua dan disukai semua kalangan. Keragaman penggemar inilah yang menjadi kekuatan Fatinistic untuk terus mensupport idolanya.
Interaksi masif di Twitter yang mempertemukan dan kemudian makin mempererat jalinan persaudaraan dengan sesama tweeps, khususnya teman-teman dari kelompok usia yang tak bisa dikatakan remaja lagi hingga kemudian muncul sebutan Fatininistic Jadul. Dan jalinan persaudaraan ini justru kian hari lebih dan makin luas lagi dengan tweeps yang lebih pantas jadi adik atau ponakan hingga beberapa fatinisitic yang mungkin lebih pantas saya panggil Pak Dhe dan Tante. Ya, berkat Fatin, saudara saya makin banyak dan saya sakin ini juga dialami teman-teman yang lain.
Berkat kebiasaan menulis di Kompasiana dan aktivitas di Twitter, yang awalnya juga karena Fatin, akhirnya sesuatu yang istimewa dan sama sekali tak pernah saya bayangkan justru saya alami. Pertama, tulisan saya tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  (setelah sekian lama selalu menulis tentang Fatin) mendapat respon. Tak lama kemudian akun Twitter saya juga di follback beliau. Kedua, dan ini yang paling istimewa, saya diundang @IstanaRakyat untuk hadir ke Istana Bogor menghadiri Kopdar Istura Perdana serta bertemu langsung dengan Presiden SBY.
Follback Presiden SBY dan undangan ke Istana itu benar-benar mengejutkan, pasalnya saya lebih sering menulis tentang Fatin daripada tentang Presiden SBY. Tapi ternyata Tuhan memang punya rencana istimewa, dan saya telah membuktikannya sendiri. Beberapa tulisan tentang Presiden SBY dan tweet serta mention kepada beliau mendapat apresiasi luar biasa yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Sudah pasti nikmat tak terkira tersebut merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri. Tentu saya juga harus berterimakasih kepada “tangan-tangan tak terlihat”, siapapun itu, yang ikut memungkinkan saya bisa sampai ke Istana disamping juga support keluarga dan para sahabat. Dan harus saya akui juga, sosok Fatin ikut berperan mengantar saya kesana, sebab semua memang juga berawal karenanya. Bahkan nama Fatin terbawa saat saya mengikuti kegiatan istimewa tersebut tanggal 5 Juli yang lalu.
Ya, nama Fatin ikut terbawa dan tersebut beberapa kali ketika itu. Saat sesi perkenalan masing-masing peserta kopdar, salah seorang pendamping yang juga Staf Kepresidenan secara tak terduga bertanya, “Sudah difollback Fatin Mas?”. Benar-benar sebuah pertanyaan singkat tapi sangat mengejutkan sebab saat itu saya sama sekali belum menyebut nama Fatin, meskipun sudah ada niatan untuk mempromote Fatin pada sesi yang pas, mengingat acara kopdar berlangsung seharian penuh hingga malam hari. Rupanya artikel di Kompasiana dan tweet serta mention tentang Fatin di TL terpantau dan terbaca!
Sekarang, ditengah ekspektasi publik kepada Fatin dengan beragam saran, masukan dan harapan terhadap penampilan dan segala sesuatu tentangnya, sebagai pemerhati yang telah “terbantu” oleh Fatin saya hanya bisa dan sangat ingin menyampaikan terima kasih. Walau belum bisa bertemu langsung, semoga ucapan terima kasih lewat tulisan ini suatu saat terbaca juga olehnya.
Terima kasih telah memperkenalkan dan mempersatukan kami dalam suatu ikatan persaudaraan, meskipun belum sempat saling bertatap muka langsung. Terima kasih untuk inspirasi yang mampu memotivasi untuk kembali menekuni aktivitas tulis menulis dan “twitteran” yang kemudian menjadi jalan menuju pencapaian terbaik (sejauh ini) dalam hidup saya. Terima kasih karena secara tak langsung ikut andil mempertemukan saya dengan orang nomor satu di negeri ini. Saya yakin, akan ada waktunya Fatin juga tampil di Istana seperti Maudy Ayunda, sebab nama Fatin sudah sempat terbawa kesana.
Dan tak berlebihan kiranya jika bangsa ini terutama generasi mudanya berterima kasih atas inspirasi yang telah diberikan Fatin. Di usia yang masih belia, berangkat dengan segala kesederhanaan dan keunikannya, ia mampu menorehkan prestasi membanggakan. Dengan popularitasnya saat ini, ia tetap teguh memegang akidahnya sebagai seorang muslimah sekaligus membuktikan bahwa hijab bukan halangan untuk berprestasi.
Apa yang telah dicapai Fatin hingga saat ini merupakan pembuktian bahwa kesederhanaan bukan halangan untuk menjadi luar biasa. Ia juga mampu membuktikan bahwa unik bisa membuatnya makin menarik. Fatin berangkat dari bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kemudian menjelma menjadi sosok remaja inspiratif serta fenomenal. Sekali lagi... Terima Kasih Fatin...

Probolinggo, 22 Agustus 2013

Pemerhati yang Kangen Nulis Fatin

Sebagai Kompasianer yang juga pemerhati Fatin Shidqia Lubis, sudah lebih satu bulan saya tidak menulis tentang juara X Factor Indonesia (XFI) edisi perdana itu. Padahal dulu, di masa Gala Show hingga grand final setidaknya dalam seminggu ada satu artikel tentang Fatin yang saya posting di Kompasiana. Ya, ada rasa kangen untuk kembali menulis artikel tentangnya.
Jika memang kangen mengapa saya tidak langsung menulis saja? Bukankah begitu mudah untuk mem-publish tulisan di Kompasiana? Sebenarnya hasrat untuk untuk menulis tentang Fatin masih ada. Tapi keinginan untuk menulis itu beberapa kali urung direalisasikan jika melihat kenyataan saat ini.
Semakin banyak tulisan tentang Fatin, dengan berbagai macam topik dari berbagai sudut pandang, baik yang positif maupun negatif, mulai dari hal yang memang layak untuk dituangkan dalam bentuk artikel hingga hal-hal sepele dan remeh temeh yang sifatnya iseng dan hanya cari perhatian saja.
Terus terang saya pribadi sempat merasa kehabisan ide, apa lagi yang akan saya tawarkan kepada pembaca untuk didiskusikan. Sepertinya, semua ide yang akan saya tuangkan dalam bentuk artikel, sudah terbahas oleh rekan-rekan penulis yang lain. Bukankah akan menjadi tidak menarik lagi suatu tulisan yang telah dibahas berulang-ulang sebelumnya? Apalagi pada media yang sama.
Akhirnya sayapun memilih menjadi silent reader untuk beberapa saat dengan kekhawatiran apakah saya justru sudah kehilangan kreativitas? Tak punya semangat berekspresi apalagi menginsiprasi? Tapi kekhawatiran itu menjadi tak beralasan jika melihat kenyataan saya masih mampu berkarya. Malah kebebasan berkespresi saya ungkapkan lewat tulisan tentang beberapa hal yang sifatnya agak serius.
Kenyataannya, bukan artikel tentang Fatin yang bisa menjadi Head Line di Kompasiana dan dibaca lebih dari 8.300 kali hanya dalam waktu seminggu. Padahal dari 39 artikel saya di Kompasiana, hanya 8 artikel yang tidak membahas Fatin. Selebihnya artikel saya isinya Fatin melulu. Alhamdulillah, setidaknya ini menjadi indikasi bahwa saya belum kehilangan kreativitas, masih mampu berkespresi dan menginspirasi.
Memang sejak kemunculannya, segala seuatu yang terkait dengan Fatin selalu menarik untuk dibahas, apalagi setelah ia menjadi jawara XFI. Hingga ada pendapat, jika ingin tulisan kita dibaca banyak orang, cantumkan saja kata ajaib “FATIN” di dalamnya.
Jadi jika ada yang bilang sekarang tulisan tentang fatin jumlahnya menurun atau lebih sedikit daripada dulu, itu tidak sepenuhnya benar. Dulu kapan? Dulu setelah Grand Final? Dulu saat euforia kemenangan Fatin atau dulu saat Fatin masih di masa-masa tidak jelas apakah akan jadi juara XFI atau tidak, saat Gala Show?.
Menurut pengamatan saya yang masih setia menjadi pemerhati Fatin, justru sejak menjadi juara XFI pemberitaan tentang Fatin semakin gencar. Tulisan-tulisan berupa artikel di berbagai media yang mengupas tuntas tentangnya bermunculan bak jamur di musim hujan. Termasuk di Kompasiana, semakin banyak Kompasianer yang menjadi Fatinistic dan sebaliknya Fatinistic yang tertarik untuk mejadi Kompasianer juga.
Diakui atau tidak, atmosfer saat ini mungkin tak semenegangkan ketika Fatin masih berada pada masa audisi, Gala Show hingga klimaksnya pada Grand Final. Saat itu semuanya masih serba tidak jelas, para pemerhati XFI pun masih meraba-raba siapa yang akan menjadi juara seiring perjalanan Gala Show. Perasaan campur aduk mulai was-was, deg-degan, nervous hingga mules menjadi wabah setiap Jum’at malam, terutama jelang pengumuman siapa yang tidak lolos ke babak berikutnya.
Saat itu tulisan yang bernada mendukung, memuji dan menyanjung Fatin serta merta direspon oleh para haters lewat komentar langsung atau membalasnya dengan tulisan yang bernada negatif. Mereka berani dan dengan vulgar memberikan serangan balik sebab ketika itu masih samar-samar apakah memang Fatin yang akan menjadi juara. Apalagi saat terjadi beberapa insiden Fatin lupa lirik yang menjadi makanan empuk haters untuk mempertegas pendapatnya bahwa Fatin tak layak jadi juara.
Bisa dikatakan, para Kompasianer pemerhati Fatin yang ketika itu bersemangat memberikan support baik yang moderat maupun militan, dihadapkan pada dua konsekuensi. Pertama, jika memang Fatin menjadi juara XFI, maka mereka akan menjadi orang yang tersenyum ketika para haters mendapati kenyataan bahwa serangan yang mereka lakukan sia-sia. Kedua, jika Fatin gagal menjadi juara, maka bersama Fatin mereka akan menjadi sasaran tembak dan “bully” habis-habisan para haters.
Alhamdulillah, ternyata perjuangan para pendukung Fatin yang mensupport lewat pembentukan opini publik di media, khususnya Kompasiana, membuahkan hasil yang manis semanis senyum kemenangan Fatin. saya pun langsung sujud syukur ketika Robby Purba menyebut nama Fatin Shidqia Lubis sebagai juara. Bahagia, bangga dan lega itu yang saya rasakan dan mungkin juga dirasakan penggemar Fatin.
Namun keinginan untuk menulis tentang kemenangan Fatin urung terealisasi sebab seketika itu juga bermunculan artikel menyambut euforia dinobatkannya Fatin sebagai jawara XFI. Haters juga tak ketinggalan memberikan respon yang tentu saja selalu negatif. Tapi kenyataannya, Fatin sudah jadi juara.
Status Fatin sebagai juara XFI tak terbantahkan lagi. Apalagi ia mampu mematahkan mitos bahwa juara kompetisi pencarian bakat selalu tenggelam saat terjun ke pasar komersial. Sejauh ini, justru Fatin makin booming dan makin sering muncul di layar kaca serta berbagai acara off air. Tentu ini menjadi atmosfer yang sangat mendukung bagi mereka yang ingin menulis artikel tentang Fatin.
Dan betul saja, selalu ada artikel dan penulis baru bermunculan membahas Fatin yang jumlahnya terus bertambah. Meskipun demikian, haters juga tak tinggal diam mencari-cari kelemahan dan kesalahan yang mereka harap akan dilakukan Fatin. Dengan prestasi dan berbagai pencapaian positif yang melekat pada Fatin, semakin banyak hal menarik yang bisa dibahas dan didiskusikan.
Semakin banyaknya tulisan dan penulis yang membahas Fatin membuktikan bahwa Fatin memang masih mempunyai daya tarik yang tinggi. Ini juga menjadi bukti Fatin memang layak menjadi jawara XFI dan pantas untuk menjadi idola. Kini menjadi tugas para penggemar dan pemerhati Fatin untuk terus memberikan support dengan caranya masing-masing, seperti lewat tulisan. Tentu saja bukan hanya sanjungan dan pujian saja yang dibutuhkan Fatin, tapi juga koreksi berupa kritik dan saran untuk perbaikan penampilannya ke depan.
Dan saya sendiri yang hingga kini masih setia menjadi pemerhati Fatin, akan terus memberikan support dengan cara saya, salah satunya lewat tulisan ini, tulisan yang sedikit banyak mampu mengobati kerinduan untuk menulis lagi tentang Fatin.

Probolinggo, 29 Juli 2013
Follow me on Twitter : @Dody_Kasman