Penampilan Fatin membawakan
Mercy pada Gala Show 7 X Factor Indonesia (XFI) kemarin kembali mendapat respon
positif dari para juri. Malam itu Fatin kembali tampil bagus dengan pilihan
lagu yang memang sangat pas dengan karakter
vokalnya. Bahkan menurut Ahmad Dhani, Fatin mulai menemukan jati dirinya
di genre blues.
Tak hanya itu, saking uniknya
karakter suara Fatin, Bebi Romeo yang biasanya kritis malah menyebut jenis
suara Fatin harus ada tiap 100 tahun sekali. Bahkan Bebi menyampaikan salam
ibundanya yang menganggap suara Fatin mirip Brenda Lee, penyayi pop dan country
asal Amerika yang populer tahun 1960-1970an.
Dan tentu saja yang ikut
mendapat perhatian adalah lagu Mercy yang dinyanyikan Fatin. Lagu yang
dipopulerkan Duffy dan sempat diremake SNSD ini langsung diserbu Fatinistic.
Setelah Gala Show kemarinpun diskusi tentang lagu yang dibawakan Fatin inipun
terus berlanjut di beragam forum di dunia maya.
Perbandingan pun tak luput
dalam diskusi tersebut. Ada yang membandingkan
Fatin dengan Duffy, ada yang membandingkan Fatin dengan Brenda Lee dan bahkan
ada yang membandingkannya dengan kontestan talent show sejenis di TV tetangga yang
kebetulan telah menyanyikan lagu Mercy juga.
Pembandingan-pembandingan
tersebut tentu sah-sah saja dan setiap orang punya alasannya masing-masing
dengan selera yang tentu tak sama. Penggemar setia Fatin tentu akan mengakatan
bahwa versi Fatinlah yang terbaik. Yang bukan penggemar Fatin dan bukan
penggemar kontestan lain tentu akan berbeda berpendapatnya. Sementara penggemar
kontestan talent show yang lain akan mengatakan versi idolanya lebih baik dari
versi Fatin.
Memang penilaian siapa yang
baik, lebih baik dan terbaik tentunya kembali kepada selera masing-masing dan
akhirnya akan menjadi sangat subyektif. Namun ada baiknya sebelum memberi
penilaian kita melihat latar belakang
Fatin dan para pembandingnya.
Pembandingan Fatin dengan
kontestan XFI dan kontestan talent show tetangga menurut penulis, menjadi tidak
fair jika melihat latar belakang pengalaman dan pengetahuan Fatin di bidang
tarik suara dan dunia panggung.
Fatin bisa dibilang masih
sangat hijau di bidang olah vokal dan tampil menampil diatas panggung apalagi
semegah XFI. Sementara kontestan yang lain rata-rata memang berprofesi sebagai
penyanyi meskipun masih sebatas penyanyi cafe atau wedding singer. Mereka juga sudah terbiasa tampil dan paham
betul bagaimana teknik penguasaan panggung.
Peserta talent show sejenis yang
dulu menyanyikan lagu Mercy saat audisinya, juga demikian. Selain berprofesi
sebagai penyiar di salah satu radio swasta di Bandung, ia juga seorang pianis
dan sudah terbiasa menyanyi di panggung di depan orang banyak.
Sementara Fatin? Bisa dikatakan Fatin ikut ajang XFI ini
bermodalkan nekat didorong rasa ingin tahunya tentang X Factor sebagaimana
sering ia saksikan di layar TV (X Factor USA). “Dari awal sebenarnya masuk sini karena kepo
(ingin tahu), enggak niat. Udah sampai di sini aja udah bersyukur banget,”
ujarnya pada suatu wawancara beberapa waktu lalu.
Saat audisi nampak sekali Fatin
seperti asal ikut saja tanpa ada angan-angan akan melangkah sejauh ini. Tampil
apa adanya dengan masih berseragama sekolah, dan berjilbab, satu hal yang
nampak sederhana dan mungkin aneh bagi sebagian orang namun justru menjadi
kelebihan dan daya tariknya. Di depan juri ketika itu ia mengaku berlatih
menyanyi di kamar mandi dan tak pernah mengenyam latihan vokal khusus.
Dari penjelasan diatas nampak
bahwa Fatin yang minim pengalaman memang berhadapan danharus siap untuk
dibanding-bandingkan dengan mereka yang jauh lebih berpengalaman darinya. Tapi nampaknya Fatin mampu mensiasati
kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki dan membaliknya menjadi sesuatu yang
justru menjadi daya tariknya.
Publik menjadi simpati dengan
penampilan bocah SMA berjilbab dengan suara ajaib itu. Siapa yang mengira
dengan penampilan begitu sederhana dan apa adanya ternyata mampu menampilkan
karakter vokal yang begitu khas dan jarang terdengar di kancah musik nasional
saat ini. Latar belakangnya yang bukan siapa-siapa tapi mampu menampilkan
sesuatu yang luar biasa itulah yang justru menjadi faktor X dan menjadi salah
satu daya tariknya.
Jika kontestan lain menjadikan
XFI dan talent show sejenis sebagai ajang pembuktian kematangan tehnik vokal
dan kemampuan penguasaan panggung yang selama ini memang telah mereka pelajari
dan tekuni, maka Fatin justru menjadikan XFI sebagai tempat belajar dan
mengasah tehnik vokalnya.
Bagi kontenstan lain mungkin
ajang pencarian bakat seperti XFI dan sejenisnya merupakan ajang kompetisi yang
serius dengan target menjadi juara, namun Fatin justru menganggapnya sebagai
media pembelajaran tanpa target harus jadi juara.
Dalam waktu singkat Fatin mampu
tampil luar biasa di atas panggung megah Gala Show XFI dan bahkan mampu
mengimbangi penampil yang sudah sangat berpengalaman dengan tampil lepas, ceria
dan nyaris tanpa beban. Justru Rossa sebagai mentor yang sering dibuat was-was
dan mules setiap kali Fatin akan tampil.
Untuk ukuran orang baru di
panggung hiburan, Fatin terbilang sukses melawan rasa nervous dan justru mampu
tampil begitu percaya diri. Dan itu
dibuktikan pada beberapa penampilan terakhirnya. Dan kini terbukti, berdasarkan
data dan fakta yang ada, Fatin telah menjelma dari seorang pelajar SMA yang
biasa-biasa saja menjadi remaja putri paling populer saat ini.
Semoga apa yang telah dilakukan
Fatin dapat menginspirasi generasi muda seusianya bahwa tak ada yang tak
mungkin jika mau berusaha dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Proses
pembelajaran dapat dilakukan kapan saja dalam perjalanan meraih apa yang
dicita-citakan. Tak perlu minder dengan kekurangan dan keterbatasan yang ada,
jadikanlah itu semua menjadi nilai lebih dan daya tarikmu. Sekali lagi, jika
Fatin bisa mengapa kita/kalian tidak?
Probolinggo, 9 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar