Sudah lebih 3 bulan saya tak
menulis artikel tentang Fatin. Terakhir artikel berjudul “Fatin ternyata masih
kerabat Michael Jackson” saya posting tanggal 1 September 2013. Setelah itu
saya masih sempat menulis 2 artikel lagi diluar tema tentang Fatin hingga
pertengahan Oktober. Selama itu juga hingga artikel ini diposting, hanya
sesekali saya mengintip kanal hiburan Kompasiana. Selain karena kesibukan yang
membuat waktu luang untuk menulis semakin berkurang, saya juga berpikir sudah
banyak pemerhati dan penggemar setianya yang rajin menulis tentang remaja putri
ajaib itu.
Namun ternyata dugaan saya
sedikit meleset setelah beberapa hari terakhir saya kembali mencoba mengintip
kanal hiburan Kompasiana. Tulisan tentang Fatin yang dulu sangat mendominasi
dengan jumlah pembaca dan komentator yang membuat para penulis bersemangat
untuk terus menulis, kini hanya ada beberapa artikel tentang Fatin. Jumlah
pembaca dan komentatornyapun tak mencapai angka ribuan seperti beberapa bulan
yang lalu. Beberapa tulisan yang masih adapun banyak yang mempertanyakan
sekaligus mengkritisi mengapa kanal hiburan Kompasiana yang dulu sempat
menjelma menjadi “Fatinsiana”, kini kurang berwarna dengan berkurangnya artikel
tentang Fatin.
Ada yang mengkritisi mungkin para
pemerhati dan penggemar yang dulu rajin menulis tentang Fatin sudah mulai
bosan, jenuh dan tak bisa menemukan hal-hal baru dan menarik dari Fatin yang
bisa diangkat menjadi tulisan. Sebagai pemerhati setia Fatin, saya tetap
mencoba berpikir positif menyikapi hal ini meskipun tak bisa dipungkiri
kepedulian saya juga terusik untuk ikut kembali beropini meski mungkin baru
bisa lewat satu tulisan ngelantur ini.
Dulu saat Fatin masih bertarung
dalam ajang pencarian bakat X Factor Indonesia (XFI), penggemar dan pemerhati
Fatin dibuat penasaran plus deg-degan dengan apa yang akan terjadi di setiap
episodenya. Lagu apa yang akan dibawakan, bagaimana penampilannya, apakah tak
lupa lirik lagi dan akankah Fatin bisa terus bertahan hingga Grand Final? Semua
itu menjadi bahan diskusi menarik dan seolah tiada habisnya, tak hanya antar
sesama penggemar Fatin tapi justru lebih seru dengan para pembencinya.
Usai gelaran XFI, setelah Fatin
resmi terpilih sebagai juara, kita semua kembali dibuat penasaran dan
bertanya-tanya bagaimana langkah Fatin selanjutnya. Bagaimana kiprahnya nanti
di dunia musik tanah air bahkan internasional, kapan album Fatin keluar,
seperti apa albumnya nanti, berapa banyak lagu berbahasa Inggris di album
tersebut, dan masih banyak lagi pertanyaan serta pernyataan yang kembali
menjadi bahan diskusi menarik. Ketika itu baru single Aku Memilih Setia yang
release disusul single religi Kekasihmu. Dua single ini terutama AMS mampu
mencuri perhatian penikmat musik tanah air.
Kepopuleran Fatin dengan AMSnya
disusul dengan makin banyaknya permintaan untuk manggung di berbagai acara di berbagai
daerah dan beberapa stasiun TV lokal. Dengan jadwal yang begitu padat, Fatin
dibawah label Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI) juga mengerjakan album
perdananya yang kemudian diberi judul “For You”. Tak hanya itu, entah
memanfaatkan momentum atau memang tema cerita yang nyambung dengan sosoknya,
Fatin ikut terlibat dalam pembuatan film 99 Cahaya di Langit Eropa yang kini
juga sudah tayang di bioskop. Hampir setiap hari tulisan tentang Fatin baik
berita maupun artikel menghiasi berbagai media terutama online.
Namun harus diakui, sebagai
makhluk yang punya perasaan, kejenuhan pasti pernah dialami setiap orang. Hal
yang sangat manusiawi. Apalagi jika dihadapkan pada aktivitas yang sama dan
situasi yang cenderung stagnan minim dinamika. Apalagi jika apa yang sangat
diidam-idamkan sudah tercapai dan bisa dinikmati. Kini album Fatin sudah bisa dinikmati,
demikian pula dengan film yang memasangnya sebagai cameo sekaligus pengisi
theme song. Fatin kembali disibukkan dengan promo album, nobar film serta show
di sana-sini dengan berbagai pemberitaan yang mengikutinya.
Mungkin saat ini para pemerhati
dan penggemar Fatin yang dulu terangsang untuk beropini akibat suasana yang
belum pasti tentang bagaimana Fatin nanti, kini memilih untuk menikmati dan
memantau apa yang telah dicapai Fatin dengan album dan filmnya sejauh ini.
Ekspose pemberitaan aktivitas Fatin di berbagai media saat ini, yang pastinya
merupakan strategi pemasaran label dan produser film, mungkin sudah cukup
menjawab rasa ingin tahu bagaimana Fatin saat ini.
Tapi bukan berarti penggemar
militan Fatin tinggal diam menikmati begitu saja. Sepinya artikel dengan
berbagai komentarnya di Kompasiana bukan berarti mereka tak berbuat untuk
Fatin. Rupanya saat ini mereka lebih memilih tindakan nyata daripada hanya
berwacana. Setidaknya ini bisa dilihat dari antusiasme penggemar Fatin di
beberapa acara yang dihadirinya, baik itu sekedar promo di gerai fried chicken
yang memasarkan albumnya ataupun di berbagai show yang menghadirkannya.
Sebagai pemerhati Fatin yang
masih kangen ingin selalu menulis tentangnya, saat ini saya lebih banyak
memilih untuk menikmati dan mengapresiasi apa yang telah dicapai Fatin sejauh
ini. Alhamdulillah, meskipun harus berjuang dan menunggu 2 minggu lebih, karena
tak ikut pre order, akhirnya saya bisa memiliki dan menikmati CD album perdana
Fatin. Di tempat saya tinggal tak ada toko kaset/CD besar, yang ada hanya lapak
VCD/DVD kaki lima. Gerai ayam goreng resmi yang ditunjuk itu pun rupanya
kebagian jatah kiriman CD belakangan. Demikian pula untuk menonton filmnya,
mungkin saya harus mencari waktu yang tepat ke Surabaya atau Malang sebab di
daerah tempat saya tinggal tak ada gedung bioskop kelas 21 apalagi XXI.
Sebagai pemerhatinya saya juga
punya beberapa harapan untuk Fatin dan pihak-pihak yang berkepentingan di
sekelilingnya. Semoga Fatin terus memperbaiki penampilan dan tehnik vokalnya,
mengurangi menyanyi lagu orang lain dan lebih mendalami lagu-lagu di albumnya .
Lucu juga kalau sampai lupa lirik lagunya sendiri. Akan menjadi suatu nilai
tambah jika ia mampu memainkan satu alat musik bahkan menciptakan lagu dan
mengaransemennya sendiri. Di usianya yang masih sangat belia semua masih sangat
mungkin terjadi. Mudah-mudahan Fatin juga lebih selektif menerima tawaran yang
datang dengan tetap mempertimbangkan keterbatasannya sebagai manusia dan dampaknya
pada kepuasan para penggemar atas penampilannya.
Semoga pihak label rekaman dan
pihak lain yang berkepentingan juga bisa lebih bijak menyikapi popularitas
Fatin saat ini dan tak menjadikannya sebagai komoditas untuk mengeruk
keuntungan jangka pendek. Fatin punya potensi besar yang masih harus terus
digali dan diasah untuk perkembangan kariernya yang masih panjang. Di usianya
yang masih sangat muda dengan semua pencapaiannya hingga saat ini, Fatin masih
punya banyak waktu dan kesempatan untuk membuktikan eksistensinya di jagat
hiburan tanah air bahkan mancanegara.
Dan akhirnya untuk rekan-rekan penggemar
setia Fatin, terus support Fatin dengan cara yang elegan, santun dan
bermartabat. Dukung Fatin secara wajar dan proporsional, tentunya bukan dukungan
membabi buta dengan semua pembenarannya. Berikan kritik dan masukan yang
membangun dan masuk akal untuk perkembangan karier Fatin ke depan, sebab
akhirnya kita semua yang akan menikmati dan mengapresiasi hasil karya Fatin
berikutnya. Kita tunggu saja.
Probolinggo, 7 Desember 2013
Follow me on twitter :
@Dody_Kasman