Fatin Shidqia Lubis dan Michael
Jackson adalah 2 (dua) nama yang tak perlu diragukan lagi popuraritasnya. Meski
harus diakui dalam hal banyak hal Fatin harus banyak belajar dari sang raja pop
dunia itu. Keduanya juga memiliki karakter vokal khas yang sangat mudah
dikenali begitu kita mendengar suaranya. Dan ada satu hal yang cukup
mengejutkan, ternyata Fatin masih kerabat Michael Jackson! Mereka berdua punya
“Mbah” yang sama, namanya SONY.
Fatin dan Michael Jackson berada di bawah
label rekaman yang sama, Sony Music Entertainmet (SME). Fatin dibawah label
Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI) yang merupakan anak perusahaan Sony
Music Entertainment, label rekaman global berkedudukan di New York yang juga menaungi
Michael Jackson. Sementara SME berada di bawah Sony Corporation of America yang
merupakan anak perusahaan Sony Corporation Japan.
Jika Fatin masih beberapa bulan
saja menjalin kemitraan dengan Sony Music, maka Michael Jackson sudah puluhan
tahun berada di bawah bendera Sony Music, bahkan hingga kini di saat ia telah
tiada. Fatin baru punya 2 (dua) single resmi bersama Sony, sementara Michael bersama
Sony Music sudah menghasilkan beberapa album dan puluhan bahkan ratusan single
yang terbukti banyak menjadi hits dunia.
Album Thriller Michael Jackson
suskses menjadi album terlaris sepanjang masa yang masih bertahan hingga kini.
Album Bad sempat menjadi album terlaris kedua sepanjang massa. Disusul
Dangerous yang menjadi album terlaris di awal dekade 1990an. Demikian juga
dengan dobel album HIStory yang mencetak angka penjualan fantastis, meskipun
mengalami penurunan di banding album-album sebelumnya. Album Invincible di awal
abad 20, juga mendapat respon positif dan cukup sukses dipasaran, meskipun
angkanya masih dibawah standard untuk ukuran seorang megabintang sebesar
Michael Jackson. Invincible menjadi album solo terakhirnya hingga ia wafat
tanggal 25 Juni 2009.
Meski berada di bawah Sony Music,
tapi Michael Jackson yang terkenal perfeksionis itu ingin lebih bebas
berkreasi. Iapun mendirikan perusahaan pribadi bernama MJJ Production dengan
label rekaman MJJ Music yang masih berada di bawah bendera SME. Setidaknya
dengan cara ini ia bisa lebih bebas mengatur sendiri banyak hal terkait rekaman
lagu, video klip, film dan berbagai pertunjukannya.
Tentunya, sebagai label rekaman
terbesar kedua dunia, Sony Music punya standar dalam hubungan dengan
artis-artis yang berada dalam manajemennya serta bagaimana memperlakukan mereka
sehingga bisa menghasilkan karya yang juga sesuai standar perusahaan. Sony
Music juga sukses melahirkan performer hebat dunia seperti Justin Timberlake,
Britney Spears, Calvin Harris, Avril Lavigne, Alicia Keys, Audioslave hingga
One Direction.
Terus terang saya Ikut puas dan
bersyukur ketika Fatin terpilih menjadi juara X Factor Indonesia (XFI) dan
mendapat hadiah kontrak rekaman eksklusif dengan SMEI. Itu berarti dua idola
saya berada dalam satu label rekaman yang sama, suatu kebetulan yang menyenangkan
bagi saya pribadi. Pada awalnya saya lega Fatin diproduseri sekaligus
dimanajemeni Sony Music, label yang puluhan tahun ikut andil membentuk karakter
dan musikalitas megabintang sekelas Michael Jackson. Setidaknya saya tahu
bagaimana standar musik Sony dari lagu dan album yang sudah dihasilkan Michael
dengan seabrek prestasi dan penghargaan yang telah diraih.
Tanpa bermaksud menuntut terlalu
tinggi, saya sempat berpikiran jauh ke depan tentang karier Fatin. SMEI adalah
perusahaan rekaman nomor 1 (satu) di Indonesia yang merupakan anak perusahaan
SME. Bukan tidak mungkin, jika mampu membuktikan eksistensi dan kualitasnya
sebagai bintang besar Indonesia serta mampu memenuhi standar yang ditentukan
SME, Fatin akan diberi kesempatan untuk berkiprah di level lebih tinggi, dunia,
alias go internasional.
Khayalan saya tak berhenti disitu
saja. Sony adalah perusahaan multibisnis dunia yang juga mempunyai divisi film
yakni Sony Pictures dengan banyak anak perusahaan seperti Columbia Pictures, TriStar
Pictures, MGM, Screen Gems dan masih banyak lagi anak perusahaan lainnya. Bukan
tidak mungkin lagi, jika Fatin suatu saat nanti juga ditawari main film
produksi Sony. Beberapa contoh artis Sony yang sukses merambah film adalah
Justin Timberlake dan Alicia Keys. Dan bukan tidak mungkin lagi, Fatin nantinya
akan menjadi model iklan produk-produk Sony.
Itu semua memang hanya khayalan
saya saja sebagai seorang pemerhati Fatin. Mimpi yang mungkin bagi sebagian
orang sangat utopis. Tidak mungkin? Mungkin saja. Jika kita kembali ke
belakang, bahkan mungkin Fatin sendiri dulu tak pernah membayangkan dirinya
akan menjadi sosok remaja putri sukses dan paling populer saat ini. Dari bukan
apa-apa dan bukan siapa-siapa, kini menjadi artis remaja dengan karier yang
kian mengkilap.
Apapun masih mungkin saja
terjadi, jika kita melihat potensi besar yang dimiliki Fatin. Tinggal bagaimana
mengoptimalkan potensi tersebut dengan kemauan untuk terus berlatih memperbaiki
penampilan didukung manajemen yang paham betul apa yang harus dilakukan pada
artis sebagai mitranya. Tentunya semua butuh proses dan tak bisa dipaksakan.
Sebagai penyanyi, kualitas vokal
menjadi faktor yang sangat penting, selain Faktor X yang ikut andil
mengantarkan Fatin menjadi jawara XFI. Agar dapat terus bertahan di tengah
ketatnya persaingan industri musik, kualitas vokal yang baik harus terus
dipertahankan disamping variasi pada aransemen dan genre yang dapat terus berkembang
seiring tuntutan pasar.
Sangat disayangkan jika karakter
vokal Fatin yang sangat khas itu kemudian menjadi kurang maksimal bahkan
“rusak” karena suatu hal yang sebenarnya dapat dimanage lebih baik lagi,
seperti padatnya jadwal kegiatan yang pada akhirnya mengakibatkan kelelahan dan
berpengaruh pada kualitas vokal Fatin. Tanpa harus menunjuk siapa yang paling
bertanggung jawab, jika diamati beberapa penampilan terakhir Fatin, nampak
sekali dia kelelahan, kemampuan untuk mencapai nada tinggi dengan nafas panjang
yang dulu sering kita nikmati saat Gala Show hingga Grand Final XFI, kini
jarang bisa kita dengar.
Memang yang paham bagaimana
kondisi diri Fatin adalah Fatin sendiri, dan yang tahu bagaimana harus me-manage penampilan Fatin adalah
manajemennya dari SMEI. Tentunya sudah ada jalinan koordinasi yang baik
diantara keduanya sebagaimana kontrak yang telah disepakati bersama. Tapi, demi
menjaga kualitas vokal dan penampilan Fatin yang tentu saja merupakan aset
berharga Sony, tentunya keduanya bisa saling berkomunikasi jika dirasa ada
sesuatu yang kurang dan dapat mengurangi kualitas penampilan Fatin.
Michael Jackson sendiri tercatat
sering menunda penampilannya karena kondisi yang kurang fit. Percuma baginya
memaksakan tampil tapi tidak maksimal, lebih baik ditunda sehari untuk
istirahat dan tampil keesokan harinya dengan kondisi yang lebih fresh. Ini
pernah dilakukannya saat Dangerous World Tour di Singapura tahun 1993. Ia
membatalkan konser 1 (satu) jam sebelum show dimulai, padahal penggemarnya sudah memadati National
Stadium Singapura. Konserpun ditunda sehari dan ia bisa tampil memukau membayar
kekecewaan penggemarnya tanggal 29 Agustus 1993 yang bertepatan dengan ulang
tahunnya yang ke 35.
Itu hanya sekedar contoh, Fatin
tak perlu dan mudah-mudahan tak pernah sampai melakukan pembatalan semacam itu.
Oleh karena itu, Fatin sendiri harus dapat menjaga kondisi dirinya sendiri agar
kualitas vokalnya tetap terjaga bahkan bisa lebih baik lagi. Pihak manajemen
hendaknya juga mempertimbangkan kondisi fisik dan psikis Fatin dalam menyusun
jadwal kegiatan yang harus dijalaninya.
Tentu itu semua hanya sekedar
saran dari pemerhati Fatin yang juga seorang MichaelMania. Semuanya kembali
pada Fatin, orang-orang terdekatnya dan tentu saja pihak manajemen yang
pastinya tahu apa yang terbaik untuk Fatin dan juga memberikan “manfaat” untuk pihak
label rekaman.
Dan hingga kini, sebagai
penggemar Michael Jackson yang telah puluhan tahun menikmati karya-karyanya
yang notabene produksi Sony Music, saya menanti album perdana Fatin dan
album-album berikutnya. Semoga single dan album Fatin nanti kualitasnya menyamai
bahkan bisa melebihi kualitas lagu dan album yang telah dihasilkan Michael
Jackson. Semoga...
Probolinggo, 1 September 2013
Follow me on Twitter :
@Dody_Kasman
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar