Sosok fatin Shidqia Lubis memang menarik untuk
diamati, dibahas dan diperdebatkan tak hanya oleh penggemar setia tapi juga mereka
yang tidak suka padanya. Contoh paling mudah dan bisa langsung dicek adalah di
forum keren Kompasiana ini. Tulisan tentang Fatin mendominasi rubrik hiburan, baik
itu musik maupun televisi.
Frekwensi kemunculannya juga cukup sering, hampir tiap
jam bahkan dalam hitungan menit ada artikel baru tentang Fatin. Kemunculan
artikel-artikel tersebut nyaris saling bersahutan antara tulisan pengagum dan
pemerhati Fatin dengan tulisan bernada kontra dari para sobat haters.
Tak berhenti hanya sekedar membaca, namun
artikel-artikel yang membahas Fatin juga ramai dikomentari, bukan cuma yang
bernada support tapi juga tak sedikit yang mengkritik bahkan mencela.
Sebagai orang baru di dunia musik yang mau tak mau
sudah mulai digelutinya, Fatin cukup dewasa dalam menyikapi berbagai komentar
miring, kritikan bahkan celaan yang ditujukan padanya. Nampaknya Fatin sadar
betul bahwa ini adalah resiko yang harus diterima dari kepopuleran yang diperoleh
dengan begitu cepat. Semakin banyak orang yang menyukainya, tentu akan diikuti
dengan banyaknya orang yang juga akan membencinya.
Dalam video diary terbarunya, Fatin mengungkapkan
prinsip yang cukup bijak :”Diantara 1 juta orang yang suka sama kamu pasti ada
100 ribu orang yang nggak suka sama kamu". Dari prinsip tersebut rupanya Fatin
menyadari, meskipun ia memiliki banyak fans tapi pasti ada saja yang tidak suka
padanya.
Namun demikian Fatin juga meminta pengertian dari
semua pihak yang sering memberikan penilaian miring padanya.”Kalo kalian mau
ngejudge gitu harus kenal langsung dulu, jangan asal ngetik...ngetik...ngetik..,”
ujar Fatin pada video diarynya. Mungkin maksud Fatin, sebelum menilai dan
menghakimi seseorang kenalilah dia lebih dekat dan pahami apa yang
menjadikannya seperti itu.
Tapi bagaimanapun juga keberadaan sobat haters makin
memberikan warna pada perjalanan Fatin yang masih baru dimulai ini. Fatin seolah
telah menjelma menjadi artis besar, selebritis berpengaruh yang selalu menarik
untuk dikomentari, bahkan untuk hal-hal kecil dan sebenarnya sudah tak perlu
diperdebatkan. Misalnya tentang hijab yang dikenakan, cara berjalan Fatin, bentuk
tubuh Fatin yang makin gendut, bahkan terjemahan lirik lagu yang semua orang sebenarnya
sudah paham maknanya, masih juga menarik dibahas karena dinyanyikan kembali oleh
Fatin.
Tak semua komentar dan kritik sobat haters itu
bermakna negatif, tapi justru sebaliknya. Seringkali kritik pedas yang
dilontarkan adalah suatu hal yang obyektif dan memang layak dikritik untuk
selanjutnya dilakukan pembenahan. Bahkan kritikan dari sobat haters tak jarang
lebih jujur dan obyektif daripada pujian dan sanjungan dari penggemar yang
membabi buta.
Sementara para pecinta Fatin atau yang lebih terkenal
dengan sebutan Fatinistic, tak perlu diragukan lagi fanatisme dan militansinya.
Dengan kekuatan jumlah yang cukup besar, Fatinistic selalu
support Fatin dengan berbagai cara. Ada yang aktif berdiskusi dan menuangkan
kreativitasnya tentang Fatin di jejaring sosial macam Facebook, Twitter dan
Youtube. Ada yang menunjukkan dukungannya dengan rajin menulis artikel di forum online seperti Kompasiana ini.
Namun yang perlu diperhatikan, dalam memberikan
dukungan hendaknya mengedepankan cara-cara yang simpatik, santun dan
bermartabat, bukan dukungan yang membabi buta. Dukung idola kita tanpa menjelek-jelekkan
pihak lain. Jangan mudah terprovokasi dengan kritik dan komentar miring. Hadapi
dan jawab dengan data dan fakta yang ada, bukan dengan emosi dan alasan tak
berdasar. Berikan apresiasi jika yang
lain memang tampil bagus dan layak mendapatkan pujian, jangan malu dan gengsi
untuk mengakuinya sebab dengan demikian kita nampak simpatik dimata mereka.
Akan sangat menyedihkan rasanya jika para fans ribut
sendiri karena egoisme dan fanatisme semu sementara para idola kita justru bisa
bersahabat bahkan begitu dekat seperti keluarga. Lebih baik manfaatkan energi
kita untuk mensupport sang idola sambil tetap memberikan kritik dan saran demi
perbaikan penampilannya ke depan. Tak perlu buang-buang tenaga mencela pihak lain
yang justru tak akan pernah ada habisnya.
Tentang Fatin diantara lovers dan haters, saya jadi
teringat lirik lagu “Childhood” milik mendiang King of Pop Michael Jackson yang
mungkin bisa jadi bahan renungan bersama.
“Before you judge me, try hard to love me, look within
your heart then ask....”
Probolinggo, 3 Mei 2013
Follow me : @Dody_Kasman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar