Sebagai
Kompasianer yang juga pemerhati Fatin Shidqia Lubis, sudah lebih satu
bulan saya tidak menulis tentang juara X Factor Indonesia (XFI) edisi
perdana itu. Padahal dulu, di masa Gala Show hingga grand final
setidaknya dalam seminggu ada satu artikel tentang Fatin yang saya
posting di Kompasiana. Ya, ada rasa kangen untuk kembali menulis artikel
tentangnya.
Jika
memang kangen mengapa saya tidak langsung menulis saja? Bukankah begitu
mudah untuk mem-publish tulisan di Kompasiana? Sebenarnya hasrat untuk
untuk menulis tentang Fatin masih ada. Tapi keinginan untuk menulis itu
beberapa kali urung direalisasikan jika melihat kenyataan saat ini.
Semakin
banyak tulisan tentang Fatin, dengan berbagai macam topik dari berbagai
sudut pandang, baik yang positif maupun negatif, mulai dari hal yang
memang layak untuk dituangkan dalam bentuk artikel hingga hal-hal sepele
dan remeh temeh yang sifatnya iseng dan hanya cari perhatian saja.
Terus
terang saya pribadi sempat merasa kehabisan ide, apa lagi yang akan
saya tawarkan kepada pembaca untuk didiskusikan. Sepertinya, semua ide
yang akan saya tuangkan dalam bentuk artikel, sudah
terbahas oleh rekan-rekan penulis yang lain. Bukankah akan menjadi tidak
menarik lagi suatu tulisan yang telah dibahas berulang-ulang
sebelumnya? Apalagi pada media yang sama.
Akhirnya
sayapun memilih menjadi silent reader untuk beberapa saat dengan
kekhawatiran apakah saya justru sudah kehilangan kreativitas? Tak punya
semangat berekspresi apalagi menginsiprasi? Tapi kekhawatiran itu
menjadi tak beralasan jika melihat kenyataan saya masih mampu berkarya.
Malah kebebasan berkespresi saya ungkapkan lewat tulisan tentang
beberapa hal yang sifatnya agak serius.
Kenyataannya,
bukan artikel tentang Fatin yang bisa menjadi Head Line di Kompasiana
dan dibaca lebih dari 8.300 kali hanya dalam waktu seminggu. Padahal
dari 39 artikel saya di Kompasiana, hanya 8 artikel yang tidak membahas
Fatin. Selebihnya artikel saya isinya Fatin melulu. Alhamdulillah,
setidaknya ini menjadi indikasi bahwa saya belum kehilangan kreativitas,
masih mampu berkespresi dan menginspirasi.
Memang
sejak kemunculannya, segala seuatu yang terkait dengan Fatin selalu
menarik untuk dibahas, apalagi setelah ia menjadi jawara XFI. Hingga ada
pendapat, jika ingin tulisan kita dibaca banyak orang, cantumkan saja
kata ajaib “FATIN” di dalamnya.
Jadi
jika ada yang bilang sekarang tulisan tentang fatin jumlahnya menurun
atau lebih sedikit daripada dulu, itu tidak sepenuhnya benar. Dulu
kapan? Dulu setelah Grand Final? Dulu saat euforia kemenangan Fatin atau dulu saat Fatin masih di masa-masa tidak jelas apakah akan jadi juara XFI atau tidak, saat Gala Show?.
Menurut
pengamatan saya yang masih setia menjadi pemerhati Fatin, justru sejak
menjadi juara XFI pemberitaan tentang Fatin semakin gencar.
Tulisan-tulisan berupa artikel di berbagai media yang mengupas tuntas
tentangnya bermunculan bak jamur di musim hujan. Termasuk di Kompasiana,
semakin banyak Kompasianer yang menjadi Fatinistic dan sebaliknya
Fatinistic yang tertarik untuk mejadi Kompasianer juga.
Diakui
atau tidak, atmosfer saat ini mungkin tak semenegangkan ketika Fatin
masih berada pada masa audisi, Gala Show hingga klimaksnya pada Grand
Final. Saat itu semuanya masih serba tidak jelas, para pemerhati XFI pun
masih meraba-raba siapa yang akan menjadi juara seiring perjalanan Gala
Show. Perasaan campur aduk mulai was-was, deg-degan, nervous hingga
mules menjadi wabah setiap Jum’at malam, terutama jelang pengumuman
siapa yang tidak lolos ke babak berikutnya.
Saat
itu tulisan yang bernada mendukung, memuji dan menyanjung Fatin serta
merta direspon oleh para haters lewat komentar langsung atau membalasnya
dengan tulisan yang bernada negatif. Mereka berani dan dengan vulgar
memberikan serangan balik sebab ketika itu masih samar-samar apakah
memang Fatin yang akan menjadi juara. Apalagi saat terjadi beberapa
insiden Fatin lupa lirik yang menjadi makanan empuk haters untuk
mempertegas pendapatnya bahwa Fatin tak layak jadi juara.
Bisa
dikatakan, para Kompasianer pemerhati Fatin yang ketika itu bersemangat
memberikan support baik yang moderat maupun militan, dihadapkan pada
dua konsekuensi. Pertama, jika memang Fatin menjadi juara XFI, maka
mereka akan menjadi orang yang tersenyum ketika para haters mendapati
kenyataan bahwa serangan yang mereka lakukan sia-sia. Kedua, jika Fatin
gagal menjadi juara, maka bersama Fatin mereka akan menjadi sasaran
tembak dan “bully” habis-habisan para haters.
Alhamdulillah,
ternyata perjuangan para pendukung Fatin yang mensupport lewat
pembentukan opini publik di media, khususnya Kompasiana, membuahkan
hasil yang manis semanis senyum kemenangan Fatin. saya pun langsung
sujud syukur ketika Robby Purba menyebut nama Fatin Shidqia Lubis
sebagai juara. Bahagia, bangga dan lega itu yang saya rasakan dan
mungkin juga dirasakan penggemar Fatin.
Namun
keinginan untuk menulis tentang kemenangan Fatin urung terealisasi
sebab seketika itu juga bermunculan artikel menyambut euforia
dinobatkannya Fatin sebagai jawara XFI. Haters juga tak ketinggalan
memberikan respon yang tentu saja selalu negatif. Tapi kenyataannya,
Fatin sudah jadi juara.
Status
Fatin sebagai juara XFI tak terbantahkan lagi. Apalagi ia mampu
mematahkan mitos bahwa juara kompetisi pencarian bakat selalu tenggelam
saat terjun ke pasar komersial. Sejauh ini, justru Fatin makin booming
dan makin sering muncul di layar kaca serta berbagai acara off air.
Tentu ini menjadi atmosfer yang sangat mendukung bagi mereka yang ingin
menulis artikel tentang Fatin.
Dan
betul saja, selalu ada artikel dan penulis baru bermunculan membahas
Fatin yang jumlahnya terus bertambah. Meskipun demikian, haters juga tak
tinggal diam mencari-cari kelemahan dan kesalahan yang mereka harap
akan dilakukan Fatin. Dengan prestasi dan berbagai pencapaian positif
yang melekat pada Fatin, semakin banyak hal menarik yang bisa dibahas
dan didiskusikan.
Semakin
banyaknya tulisan dan penulis yang membahas Fatin membuktikan bahwa
Fatin memang masih mempunyai daya tarik yang tinggi. Ini juga menjadi
bukti Fatin memang layak menjadi jawara XFI dan pantas untuk menjadi
idola. Kini menjadi tugas para penggemar dan pemerhati Fatin untuk terus
memberikan support dengan caranya masing-masing, seperti lewat tulisan.
Tentu saja bukan hanya sanjungan dan pujian saja yang dibutuhkan Fatin,
tapi juga koreksi berupa kritik dan saran untuk perbaikan penampilannya
ke depan.
Dan
saya sendiri yang hingga kini masih setia menjadi pemerhati Fatin, akan
terus memberikan support dengan cara saya, salah satunya lewat tulisan
ini, tulisan yang sedikit banyak mampu mengobati kerinduan untuk menulis
lagi tentang Fatin.
Probolinggo, 29 Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar