Kamis, 30 Januari 2014

Pemerhati yang Kangen Nulis Fatin

Sebagai Kompasianer yang juga pemerhati Fatin Shidqia Lubis, sudah lebih satu bulan saya tidak menulis tentang juara X Factor Indonesia (XFI) edisi perdana itu. Padahal dulu, di masa Gala Show hingga grand final setidaknya dalam seminggu ada satu artikel tentang Fatin yang saya posting di Kompasiana. Ya, ada rasa kangen untuk kembali menulis artikel tentangnya.
Jika memang kangen mengapa saya tidak langsung menulis saja? Bukankah begitu mudah untuk mem-publish tulisan di Kompasiana? Sebenarnya hasrat untuk untuk menulis tentang Fatin masih ada. Tapi keinginan untuk menulis itu beberapa kali urung direalisasikan jika melihat kenyataan saat ini.
Semakin banyak tulisan tentang Fatin, dengan berbagai macam topik dari berbagai sudut pandang, baik yang positif maupun negatif, mulai dari hal yang memang layak untuk dituangkan dalam bentuk artikel hingga hal-hal sepele dan remeh temeh yang sifatnya iseng dan hanya cari perhatian saja.
Terus terang saya pribadi sempat merasa kehabisan ide, apa lagi yang akan saya tawarkan kepada pembaca untuk didiskusikan. Sepertinya, semua ide yang akan saya tuangkan dalam bentuk artikel, sudah terbahas oleh rekan-rekan penulis yang lain. Bukankah akan menjadi tidak menarik lagi suatu tulisan yang telah dibahas berulang-ulang sebelumnya? Apalagi pada media yang sama.
Akhirnya sayapun memilih menjadi silent reader untuk beberapa saat dengan kekhawatiran apakah saya justru sudah kehilangan kreativitas? Tak punya semangat berekspresi apalagi menginsiprasi? Tapi kekhawatiran itu menjadi tak beralasan jika melihat kenyataan saya masih mampu berkarya. Malah kebebasan berkespresi saya ungkapkan lewat tulisan tentang beberapa hal yang sifatnya agak serius.
Kenyataannya, bukan artikel tentang Fatin yang bisa menjadi Head Line di Kompasiana dan dibaca lebih dari 8.300 kali hanya dalam waktu seminggu. Padahal dari 39 artikel saya di Kompasiana, hanya 8 artikel yang tidak membahas Fatin. Selebihnya artikel saya isinya Fatin melulu. Alhamdulillah, setidaknya ini menjadi indikasi bahwa saya belum kehilangan kreativitas, masih mampu berkespresi dan menginspirasi.
Memang sejak kemunculannya, segala seuatu yang terkait dengan Fatin selalu menarik untuk dibahas, apalagi setelah ia menjadi jawara XFI. Hingga ada pendapat, jika ingin tulisan kita dibaca banyak orang, cantumkan saja kata ajaib “FATIN” di dalamnya.
Jadi jika ada yang bilang sekarang tulisan tentang fatin jumlahnya menurun atau lebih sedikit daripada dulu, itu tidak sepenuhnya benar. Dulu kapan? Dulu setelah Grand Final? Dulu saat euforia kemenangan Fatin atau dulu saat Fatin masih di masa-masa tidak jelas apakah akan jadi juara XFI atau tidak, saat Gala Show?.
Menurut pengamatan saya yang masih setia menjadi pemerhati Fatin, justru sejak menjadi juara XFI pemberitaan tentang Fatin semakin gencar. Tulisan-tulisan berupa artikel di berbagai media yang mengupas tuntas tentangnya bermunculan bak jamur di musim hujan. Termasuk di Kompasiana, semakin banyak Kompasianer yang menjadi Fatinistic dan sebaliknya Fatinistic yang tertarik untuk mejadi Kompasianer juga.
Diakui atau tidak, atmosfer saat ini mungkin tak semenegangkan ketika Fatin masih berada pada masa audisi, Gala Show hingga klimaksnya pada Grand Final. Saat itu semuanya masih serba tidak jelas, para pemerhati XFI pun masih meraba-raba siapa yang akan menjadi juara seiring perjalanan Gala Show. Perasaan campur aduk mulai was-was, deg-degan, nervous hingga mules menjadi wabah setiap Jum’at malam, terutama jelang pengumuman siapa yang tidak lolos ke babak berikutnya.
Saat itu tulisan yang bernada mendukung, memuji dan menyanjung Fatin serta merta direspon oleh para haters lewat komentar langsung atau membalasnya dengan tulisan yang bernada negatif. Mereka berani dan dengan vulgar memberikan serangan balik sebab ketika itu masih samar-samar apakah memang Fatin yang akan menjadi juara. Apalagi saat terjadi beberapa insiden Fatin lupa lirik yang menjadi makanan empuk haters untuk mempertegas pendapatnya bahwa Fatin tak layak jadi juara.
Bisa dikatakan, para Kompasianer pemerhati Fatin yang ketika itu bersemangat memberikan support baik yang moderat maupun militan, dihadapkan pada dua konsekuensi. Pertama, jika memang Fatin menjadi juara XFI, maka mereka akan menjadi orang yang tersenyum ketika para haters mendapati kenyataan bahwa serangan yang mereka lakukan sia-sia. Kedua, jika Fatin gagal menjadi juara, maka bersama Fatin mereka akan menjadi sasaran tembak dan “bully” habis-habisan para haters.
Alhamdulillah, ternyata perjuangan para pendukung Fatin yang mensupport lewat pembentukan opini publik di media, khususnya Kompasiana, membuahkan hasil yang manis semanis senyum kemenangan Fatin. saya pun langsung sujud syukur ketika Robby Purba menyebut nama Fatin Shidqia Lubis sebagai juara. Bahagia, bangga dan lega itu yang saya rasakan dan mungkin juga dirasakan penggemar Fatin.
Namun keinginan untuk menulis tentang kemenangan Fatin urung terealisasi sebab seketika itu juga bermunculan artikel menyambut euforia dinobatkannya Fatin sebagai jawara XFI. Haters juga tak ketinggalan memberikan respon yang tentu saja selalu negatif. Tapi kenyataannya, Fatin sudah jadi juara.
Status Fatin sebagai juara XFI tak terbantahkan lagi. Apalagi ia mampu mematahkan mitos bahwa juara kompetisi pencarian bakat selalu tenggelam saat terjun ke pasar komersial. Sejauh ini, justru Fatin makin booming dan makin sering muncul di layar kaca serta berbagai acara off air. Tentu ini menjadi atmosfer yang sangat mendukung bagi mereka yang ingin menulis artikel tentang Fatin.
Dan betul saja, selalu ada artikel dan penulis baru bermunculan membahas Fatin yang jumlahnya terus bertambah. Meskipun demikian, haters juga tak tinggal diam mencari-cari kelemahan dan kesalahan yang mereka harap akan dilakukan Fatin. Dengan prestasi dan berbagai pencapaian positif yang melekat pada Fatin, semakin banyak hal menarik yang bisa dibahas dan didiskusikan.
Semakin banyaknya tulisan dan penulis yang membahas Fatin membuktikan bahwa Fatin memang masih mempunyai daya tarik yang tinggi. Ini juga menjadi bukti Fatin memang layak menjadi jawara XFI dan pantas untuk menjadi idola. Kini menjadi tugas para penggemar dan pemerhati Fatin untuk terus memberikan support dengan caranya masing-masing, seperti lewat tulisan. Tentu saja bukan hanya sanjungan dan pujian saja yang dibutuhkan Fatin, tapi juga koreksi berupa kritik dan saran untuk perbaikan penampilannya ke depan.
Dan saya sendiri yang hingga kini masih setia menjadi pemerhati Fatin, akan terus memberikan support dengan cara saya, salah satunya lewat tulisan ini, tulisan yang sedikit banyak mampu mengobati kerinduan untuk menulis lagi tentang Fatin.

Probolinggo, 29 Juli 2013
Follow me on Twitter : @Dody_Kasman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar