mencerdaskan bangsa? Bagaimana
mungkin? Apa yang telah ia sumbangkan untuk dunia pendidikan? Guru saja bukan.
Ia juga masih siswi SMA yang masih dalam proses pembelajaran. Lantas bagaimana
Fatin bisa ikut mencerdaskan bangsa?
Fatin tak perlu melakukan aksi
dibidang pendidikan dan pengajaran untuk mencerdaskan bangsa, tak perlu membuat
karya ilmiah sebagai pembuktian. Ia cukup menjadi Fatin yang seperti
sekarang, Fatin yang fenomenal, unik,
berkarakter dan selalu menarik untuk didiskusikan.
Sejak keikutsertaannya di ajang
pencarian bakat X Factor Indonesia (XFI) sosoknya selalu menarik untuk didiskusikan.
Dan tak tak dapat dipungkiri, Fatin adalah finalis XFI yang paling sering
dibahas di berbagai media baik cetak dan elektronik.
Ini merupakan salah satu bukti
bahwa Fatin mampu mengusik kecerdasan kita baik secara intelektual maupun
emosional. Secara intelektual kehadiran Fatin berhasil membuat banyak orang
yang sedikit tahu tentangnya menjadi ingin banyak tahu dan tak sedikit yang akhirnya
menjadi sok tahu.
Fatin sukses merangsang banyak
orang, termasuk para Kompasianer untuk ramai-ramai menulis plus
mendiskusikannya. Hampir setiap saat artikel baru tentangnya muncul.
Sampai-sampai saya hampir kehabisan ide untuk menulis apalagi saking banyaknya
tulisan yang mengulas tuntas tentangnya. Hingga pada beberapa artikel terakhir
saya justru memilih rubrik humor untuk menuangkan hasrat menulis, tentu saja
masih tentang Fatin.
Karena Fatin juga, banyak orang
penasaran dengan lagu-lagu yang dibawakan, siapa penyanyi aslinya, jenis
musiknya, bagaimana aransemennya hingga entah disadari atau tidak merekapun terbawa
arus untuk membuat analisis-analisi lengkap dengan argumen-argumen yang
meyakinkan.
Karena Fatin juga banyak orang
kembali membuka referensi lagu-lagu lama beserta penyanyi-penyanyi jaman dulu
seperti Cindy Lauper dan Brenda Lee, kemudian membanding-bandingkan kemiripan
suara mereka dengan Fatin, menganalisis dan membuat kesimpulan yang kemudian
kembali jadi bahan diskusi tiada habisnya.
Karena Fatin juga, forum diskusi
baik di twitter, facebook, youtube bahkan Kompasiana juga ramai, bersahutan dan
nyaris tak berujung. Satu ulasan yang bernada menyanjung akan direspon ulasan
bernada menjatuhkan. Satu pendapat yang terkesan berat sebelah dan
menjelek-jelekkan oleh para haters, pasti akan segera diluruskan dengan argumen
beserta fakta nyata oleh para lovers.
Semua itu tentu saja bisa
dilakukan oleh mereka yang intelek dan mampu berpikir, entah positif maupun
negatif. Tak mungkin orang tak berpendidikan yang akan terlibat diskusi seru
dan menegangkan seperti yang sering kita simak. Tak mungkin pula orang tak
waras bisa melakukan aktivitas yang membutuhkan intelegensia dan kemampuan
berpikir cerdas seperti itu.
Dari aspek kecerdasan emosional
bisa kita lihat aneka pendapat dan tanggapan yang sahut menyahut tersebut
merupakan ekspresi emosional manusia yang memang selain punya akal pikiran juga
punya perasaan. Rasa suka dan tidak
suka, senang dan tidak senang, puas dan kecewa, bangga dan apatis. Dan Fatin
pun mampu menimbulkan perasaan-perasaan sepeti itu, bahkan secara bersamaan,
antara lovers dan haters.
Para penggemar Fatin tentu akan
merasa senang, puas dan bangga saat ia mampu tampil sesuai harapan, dan sebaliknya para
penggemarnya juga akan ikut sedih jika Fatin melakukan kesalahan pada
penampilannya, seperti insiden lupa lirik beberapa waktu lalu.
Berkat kecerdasan emosional yang
tinggi dari para penggemar Fatin, membuat mereka mampu memberikan apresiasi positif atas apa
yang telah dicapai dan dipersembahkan Fatin, yang selanjutnya terungkapkan
dalam bentuk perasaan suka rela dan suka cita mendukung idolanya. Dan karena
kepekaan emosional juga para lovers menjadi ikut sedih saat Fatin melakukan
suatu kealpaan.
Dan bagi para haters? Tak perlu
dijelaskan lagi bagaimana reaksi dan ungkapan perasaan mereka saat Fatin
melakukan kesalahan. Bahkan disaat Fatin mampu tampil baguspun kecerdasan emosional mereka masih sanggup mengakumulasi
perasaan sinis, sentimen dan antipati sehingga mampu memberikan apresiasi
negatif atas apa yang telah dilakukan Fatin.
Dari penjelasan diatas kita
semua patut berterimakasih pada Fatin karena terbuti mampu membuat kita semua
semakin “cerdas” dan tiba-tiba menjadi ahli di berbagai bidang, tak hanya musik
tapi juga pertelevisian, filsafat, sosial budaya, fashion, psikologi, bahkan
komedi. Fatin juga membuat kita menjadi selalu ingin tahu hingga akhirnya tak
sedikit pula yang menjadi sok tahu.
Fatin juga mampu mengaduk-aduk
emosi hingga kita bisa menangis dan kmudian tersenyum bahkan tertawa dalam
waktu hampir bersamaan. Disadari atau tidak, Fatin telah sukses membuat kita
menjadi semakin cerdas secara intelektual maupun emosional.
Probolinggo, 20 Mei 2013
Follow Me : @Dody_Kasman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar