Fatin Shidqia Lubis tak terbantahkan
telah menjadi sosok remaja putri paling pouler saat ini. Ketika artikel ini
saya tulis, diskusi di berbagai media sedang ramai membahas segala sesuatu
terkait keikutsertaan Fatin pada ajang X Factor Around The Worlds (XFATW) yang
digelar Sabtu (24/8).
Sebenarnya saya ingin ikut
berpartisipasi meramaikan diskusi tersebut, setidaknya memberikan beberapa
saran dan masukan untuk Fatin dan Fatinistic. Tapi begitu saya membuka kanal
hiburan Kompasiana niatan tersebut perlahan pudar setelah mendapati sebagian
besar artikel didalamnya membahas tentang Fatin dan XFATW. Apa yang ingin saya
sampaikan, sebagian besar sudah terwakili tulisan rekan-rekan Kompasianer yang
lain.
Namun demikian hasrat untuk menulis
tentang Fatin masih tinggi sehingga sayapun memutuskan untuk tetap menulis
dengan topik yang lain. Artikel yang mungkin lebih bersifat subyektif dalam
melihat dan menilai Fatin, dari sudut pandang saya pribadi sebagai
pemerhatinya. Tulisan yang mungkin narsis, alay dan egois. Tapi setidaknya
lewat tulisan kali ini, saya mencoba untuk jujur mengungkapkan apa yang ada
dalam hati dan pikiran ini.
Di tengah besarnya ekspektasi publik terutama
Fatinistic disertai saran dan masukan terhadap keikutsertaan Fatin di ajang
XFATW, saya memilih dan memang harus mengungkapkan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya untuk Fatin. Mengapa? Karena harus saya akui, Fatin merupakan
salah satu alasan dan sebab atas beberapa hal yang luar biasa dan tak terduga
yang telah saya alami.
Dan sebelum membahas lebih jauh, tentu
saja yang pertama, saya wajib beryukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan
anugerah yang telah diberikan pada saya, kemudian pada keluarga, kerabat dan rekan-rekan
yang telah memberikan support berupa kritik saran dan masukan yang ikut andil
mengantar saya pada pencapaian sejauh ini.
Fatin? Terserah saya mau dibilang alay,
tapi memang Fatin juga jadi salah satu faktor pendukung atas apa yang telah
saya capai sampai saat ini. Karena Fatin saya kembali berhasrat untuk menulis,
dan karena Fatin saya kembali aktif berkicau di twitter. Fatin kembali
menggugah hasrat menulis setelah sekian lama pudar karena mutasi yang harus
saya jalani.
Selama 5 (lima) tahun, tugas liputan dan
tulis menulis sudah menjadi makanan sehari-hari saya di tempat tugas yang lama.
Pencitraan pemerintahan daerah lewat bermacam tulisan sudah menjadi bagian
tugas yang harus saya jalani karena memang sudah menjadi bagian dari tugas pokok dan fungsi (tupoksi)). Namun
aktivitas tersebut akhirnya harus teralihkan ke bentuk lain setelah saya
dimutasi ke tempat tugas sekarang, dengan tupoksi, program dan kegiatan yang
cukup jauh berbeda dari sebelumnya.
Di tempat tugas baru, tulis menulis yang
terkait tupoksi hanya sebatas penyusunan usulan, progress kegiatan dan laporan
hasil pelaksanaan kegiatan serta laporan-laporan lain yang sifatnya insidentil.
Meskipun masih harus turun ke lapangan, tapi intensitasnya tak sepadat ketika
tugas liputan seperti dulu yang seolah tak kenal waktu pagi, siang dan malam.
Sekarang lebih banyak waktu senggang di rumah.
Dan entah memang kebetulan atau memang
sudah “terencana”, kepindahan saya ke tempat tugas baru nyarus bersamaan dengan
dimulainya babak audisi X Factor Indonesia (XFI). Jika di awal-awal ada
perasaan kurang nyaman karena harus alih tugas, namun kemudian secara perlahan
perasaan tersebut sirna dan malah sangat saya syukuri. Seandainya saya masih
bertahan di tempat tugas lama, hampir bisa dipastikan tak akan banyak waktu
untuk bisa mengikuti perjalanan Fatin di tiap episode XFI mengingat padatnya
jadwal kegiatan pemerintah daerah jelang Pemilukada ketika itu. Syukur
Alhamdulillah, di tempat tugas yang baru dengan jam kerja yang teratur, tak
satupun episode XFI yang terlewat sejak babak audisi hingga Grand Final.
Pada masa awal bertugas di tempat yang
baru, aktivitas menulis khususnya artikel sempat terhenti cukup lama. Namun
kemudian gairah untuk menulis kembali muncul seiring dimulainya ajang pencarian
bakat X Factor Indonesia (XFI). Tapi bukan XFInya yang membuat saya kembali
terangsang untuk menulis artikel, tapi salah satu peserta yang menurut saya
waktu itu cukup unik dengan penampilan dan karakter suaranya yang sangat khas.
Ya, Fatin mampu meyakinkan saya bahwa dia memang layak mendapatkan support dan
pantas untuk menjadi idola.
Ketertarikan pada sosok Fatin yang
cukup”aneh” waktu itu yang akhirnya menggiring saya untuk menjadi pemerhati dan
memberikan support untuknya, tentu saja dengan cara saya, lewat pencitraan dan
pembentukan opini publik lewat tulisan. Tapi tak mungkin saya titip tulisan
tentang Fatin untuk dimuat di media pemerintah daerah sebagaimana sering saya
lakukan dulu. Akhirnya saya memilih membuat akun di Kompasiana untuk berbagi
opini serta berdiskusi lewat media warga yang populer ini.
Support lewat tulisan sepertinya
merupakan pilihan paling tepat dan efektif, sebab dengan alasan jarak dan biaya
hampir tak mungkin saya bisa datang tiap Jum’at malam ke Studio 8 RCTI
memberikan support langsung untuk Fatin bersama rekan-rekan Fatinistic yang
lain. Jadi, meskipun saya tak bisa ikut langsung mengawal secara fisik dan meneriakkan
yel-yel dukungan untuk Fatin, setidaknya suara dukungan saya untuk Fatin masih terdengar
di Kompasiana. Dan di awal gelaran XFI saya tak sendiri, ada beberapa
Kompasianer seperjuangan seperti Orang Mars, Udjo Freak, Nina Mahbubah, Arief
Firhanusa, Firman Maulana dan rekan-rekan pemerhati Fatin yang lain.
Karena Fatin juga, ketertarikan pada
jejaring sosial Twitter kembali muncul setelah beberapa tahun akun twitter saya
vakum dengan hanya beberapa kali kicauan dan minim follower. Sebelumnya saya
memang lebih aktif sebagai Facebooker, tapi sebatas pertemanan dengan rekan
kerja serta teman-teman masa sekolah dan kuliah. Seiring makin ramainya diskusi
tentang Fatin, dan untuk kebutuhan publikasi dukungan, akhirnya saya putuskan
membuat akun twitter baru @Dody_Kasman yang ketika itu lebih konsen pada segala
hal tentang Fatin.
Di Twitterland inilah saya kenal banyak
tweeps pemerhati Fatin yang kemudian terkenal dengan sebutan Fatinistic. Terima
kasih tak lupa saya sampaikan untuk adik-adik pemrakarsa nama Fatinistic, yang
berdasarkan kisah yang sudah saya baca di Kompasiana sangat gigih mendukung dan
mengawal langsung Fatin mulai masa Gala Show hingga jadi juara XFI.
Tapi Jika boleh saya tegaskan kembali
bahwa Fatin kini bukan hanya milik kelompok tertentu. Demikian pula Fatinistic,
tak terbatas usia, golongan atau seberapa mereka “merasa”dekat dengan Fatin,
karena... Kita semua adalah Fatinistic. Kalaupun ada yang mengatasnamakan asal
daerah, kesamaan hobby ataupun kesadaran karena usia yang sudah tak terbilang
muda, itu membuktikan bahwa Fatin memang milik semua dan disukai semua
kalangan. Keragaman penggemar inilah yang menjadi kekuatan Fatinistic untuk
terus mensupport idolanya.
Interaksi masif di Twitter yang mempertemukan
dan kemudian makin mempererat jalinan persaudaraan dengan sesama tweeps,
khususnya teman-teman dari kelompok usia yang tak bisa dikatakan remaja lagi
hingga kemudian muncul sebutan Fatininistic Jadul. Dan jalinan persaudaraan ini
justru kian hari lebih dan makin luas lagi dengan tweeps yang lebih pantas jadi
adik atau ponakan hingga beberapa fatinisitic yang mungkin lebih pantas saya
panggil Pak Dhe dan Tante. Ya, berkat Fatin, saudara saya makin banyak dan saya
sakin ini juga dialami teman-teman yang lain.
Berkat kebiasaan menulis di Kompasiana
dan aktivitas di Twitter, yang awalnya juga karena Fatin, akhirnya sesuatu yang
istimewa dan sama sekali tak pernah saya bayangkan justru saya alami. Pertama,
tulisan saya tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (setelah sekian lama selalu menulis tentang
Fatin) mendapat respon. Tak lama kemudian akun Twitter saya juga di follback beliau.
Kedua, dan ini yang paling istimewa, saya diundang @IstanaRakyat untuk hadir ke
Istana Bogor menghadiri Kopdar Istura Perdana serta bertemu langsung dengan
Presiden SBY.
Follback Presiden SBY dan undangan ke
Istana itu benar-benar mengejutkan, pasalnya saya lebih sering menulis tentang
Fatin daripada tentang Presiden SBY. Tapi ternyata Tuhan memang punya rencana istimewa,
dan saya telah membuktikannya sendiri. Beberapa tulisan tentang Presiden SBY
dan tweet serta mention kepada beliau mendapat apresiasi luar biasa yang sama
sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Sudah pasti nikmat tak terkira tersebut
merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri. Tentu saya juga harus
berterimakasih kepada “tangan-tangan tak terlihat”, siapapun itu, yang ikut
memungkinkan saya bisa sampai ke Istana disamping juga support keluarga dan para
sahabat. Dan harus saya akui juga, sosok Fatin ikut berperan mengantar saya
kesana, sebab semua memang juga berawal karenanya. Bahkan nama Fatin terbawa
saat saya mengikuti kegiatan istimewa tersebut tanggal 5 Juli yang lalu.
Ya, nama Fatin ikut terbawa dan tersebut
beberapa kali ketika itu. Saat sesi perkenalan masing-masing peserta kopdar,
salah seorang pendamping yang juga Staf Kepresidenan secara tak terduga
bertanya, “Sudah difollback Fatin Mas?”. Benar-benar sebuah pertanyaan singkat
tapi sangat mengejutkan sebab saat itu saya sama sekali belum menyebut nama
Fatin, meskipun sudah ada niatan untuk mempromote Fatin pada sesi yang pas,
mengingat acara kopdar berlangsung seharian penuh hingga malam hari. Rupanya
artikel di Kompasiana dan tweet serta mention tentang Fatin di TL terpantau dan
terbaca!
Sekarang, ditengah ekspektasi publik kepada
Fatin dengan beragam saran, masukan dan harapan terhadap penampilan dan segala
sesuatu tentangnya, sebagai pemerhati yang telah “terbantu” oleh Fatin saya
hanya bisa dan sangat ingin menyampaikan terima kasih. Walau belum bisa bertemu
langsung, semoga ucapan terima kasih lewat tulisan ini suatu saat terbaca juga
olehnya.
Terima kasih telah memperkenalkan dan
mempersatukan kami dalam suatu ikatan persaudaraan, meskipun belum sempat saling
bertatap muka langsung. Terima kasih untuk inspirasi yang mampu memotivasi
untuk kembali menekuni aktivitas tulis menulis dan “twitteran” yang kemudian
menjadi jalan menuju pencapaian terbaik (sejauh ini) dalam hidup saya. Terima
kasih karena secara tak langsung ikut andil mempertemukan saya dengan orang
nomor satu di negeri ini. Saya yakin, akan ada waktunya Fatin juga tampil di
Istana seperti Maudy Ayunda, sebab nama Fatin sudah sempat terbawa kesana.
Dan tak berlebihan kiranya jika bangsa
ini terutama generasi mudanya berterima kasih atas inspirasi yang telah
diberikan Fatin. Di usia yang masih belia, berangkat dengan segala kesederhanaan
dan keunikannya, ia mampu menorehkan prestasi membanggakan. Dengan
popularitasnya saat ini, ia tetap teguh memegang akidahnya sebagai seorang
muslimah sekaligus membuktikan bahwa hijab bukan halangan untuk berprestasi.
Apa yang telah dicapai Fatin hingga saat
ini merupakan pembuktian bahwa kesederhanaan bukan halangan untuk menjadi luar
biasa. Ia juga mampu membuktikan bahwa unik bisa membuatnya makin menarik. Fatin
berangkat dari bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kemudian menjelma menjadi
sosok remaja inspiratif serta fenomenal. Sekali lagi... Terima Kasih Fatin...
Probolinggo,
22 Agustus 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar