Kamis, 30 Januari 2014

Terima Kasih Fatin...



Fatin Shidqia Lubis tak terbantahkan telah menjadi sosok remaja putri paling pouler saat ini. Ketika artikel ini saya tulis, diskusi di berbagai media sedang ramai membahas segala sesuatu terkait keikutsertaan Fatin pada ajang X Factor Around The Worlds (XFATW) yang digelar Sabtu (24/8).
Sebenarnya saya ingin ikut berpartisipasi meramaikan diskusi tersebut, setidaknya memberikan beberapa saran dan masukan untuk Fatin dan Fatinistic. Tapi begitu saya membuka kanal hiburan Kompasiana niatan tersebut perlahan pudar setelah mendapati sebagian besar artikel didalamnya membahas tentang Fatin dan XFATW. Apa yang ingin saya sampaikan, sebagian besar sudah terwakili tulisan rekan-rekan Kompasianer yang lain.
Namun demikian hasrat untuk menulis tentang Fatin masih tinggi sehingga sayapun memutuskan untuk tetap menulis dengan topik yang lain. Artikel yang mungkin lebih bersifat subyektif dalam melihat dan menilai Fatin, dari sudut pandang saya pribadi sebagai pemerhatinya. Tulisan yang mungkin narsis, alay dan egois. Tapi setidaknya lewat tulisan kali ini, saya mencoba untuk jujur mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikiran ini.
Di tengah besarnya ekspektasi publik terutama Fatinistic disertai saran dan masukan terhadap keikutsertaan Fatin di ajang XFATW, saya memilih dan memang harus mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Fatin. Mengapa? Karena harus saya akui, Fatin merupakan salah satu alasan dan sebab atas beberapa hal yang luar biasa dan tak terduga yang telah saya alami.
Dan sebelum membahas lebih jauh, tentu saja yang pertama, saya wajib beryukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan anugerah yang telah diberikan pada saya, kemudian pada keluarga, kerabat dan rekan-rekan yang telah memberikan support berupa kritik saran dan masukan yang ikut andil mengantar saya pada pencapaian sejauh ini.
Fatin? Terserah saya mau dibilang alay, tapi memang Fatin juga jadi salah satu faktor pendukung atas apa yang telah saya capai sampai saat ini. Karena Fatin saya kembali berhasrat untuk menulis, dan karena Fatin saya kembali aktif berkicau di twitter. Fatin kembali menggugah hasrat menulis setelah sekian lama pudar karena mutasi yang harus saya jalani.
Selama 5 (lima) tahun, tugas liputan dan tulis menulis sudah menjadi makanan sehari-hari saya di tempat tugas yang lama. Pencitraan pemerintahan daerah lewat bermacam tulisan sudah menjadi bagian tugas yang harus saya jalani karena memang sudah menjadi bagian dari  tugas pokok dan fungsi (tupoksi)). Namun aktivitas tersebut akhirnya harus teralihkan ke bentuk lain setelah saya dimutasi ke tempat tugas sekarang, dengan tupoksi, program dan kegiatan yang cukup jauh berbeda dari sebelumnya.
Di tempat tugas baru, tulis menulis yang terkait tupoksi hanya sebatas penyusunan usulan, progress kegiatan dan laporan hasil pelaksanaan kegiatan serta laporan-laporan lain yang sifatnya insidentil. Meskipun masih harus turun ke lapangan, tapi intensitasnya tak sepadat ketika tugas liputan seperti dulu yang seolah tak kenal waktu pagi, siang dan malam. Sekarang lebih banyak waktu senggang di rumah.
Dan entah memang kebetulan atau memang sudah “terencana”, kepindahan saya ke tempat tugas baru nyarus bersamaan dengan dimulainya babak audisi X Factor Indonesia (XFI). Jika di awal-awal ada perasaan kurang nyaman karena harus alih tugas, namun kemudian secara perlahan perasaan tersebut sirna dan malah sangat saya syukuri. Seandainya saya masih bertahan di tempat tugas lama, hampir bisa dipastikan tak akan banyak waktu untuk bisa mengikuti perjalanan Fatin di tiap episode XFI mengingat padatnya jadwal kegiatan pemerintah daerah jelang Pemilukada ketika itu. Syukur Alhamdulillah, di tempat tugas yang baru dengan jam kerja yang teratur, tak satupun episode XFI yang terlewat sejak babak audisi hingga Grand Final. 
Pada masa awal bertugas di tempat yang baru, aktivitas menulis khususnya artikel sempat terhenti cukup lama. Namun kemudian gairah untuk menulis kembali muncul seiring dimulainya ajang pencarian bakat X Factor Indonesia (XFI). Tapi bukan XFInya yang membuat saya kembali terangsang untuk menulis artikel, tapi salah satu peserta yang menurut saya waktu itu cukup unik dengan penampilan dan karakter suaranya yang sangat khas. Ya, Fatin mampu meyakinkan saya bahwa dia memang layak mendapatkan support dan pantas untuk menjadi idola.
Ketertarikan pada sosok Fatin yang cukup”aneh” waktu itu yang akhirnya menggiring saya untuk menjadi pemerhati dan memberikan support untuknya, tentu saja dengan cara saya, lewat pencitraan dan pembentukan opini publik lewat tulisan. Tapi tak mungkin saya titip tulisan tentang Fatin untuk dimuat di media pemerintah daerah sebagaimana sering saya lakukan dulu. Akhirnya saya memilih membuat akun di Kompasiana untuk berbagi opini serta berdiskusi lewat media warga yang populer ini.
Support lewat tulisan sepertinya merupakan pilihan paling tepat dan efektif, sebab dengan alasan jarak dan biaya hampir tak mungkin saya bisa datang tiap Jum’at malam ke Studio 8 RCTI memberikan support langsung untuk Fatin bersama rekan-rekan Fatinistic yang lain. Jadi, meskipun saya tak bisa ikut langsung mengawal secara fisik dan meneriakkan yel-yel dukungan untuk Fatin, setidaknya suara dukungan saya untuk Fatin masih terdengar di Kompasiana. Dan di awal gelaran XFI saya tak sendiri, ada beberapa Kompasianer seperjuangan seperti Orang Mars, Udjo Freak, Nina Mahbubah, Arief Firhanusa, Firman Maulana dan rekan-rekan pemerhati Fatin yang lain.
Karena Fatin juga, ketertarikan pada jejaring sosial Twitter kembali muncul setelah beberapa tahun akun twitter saya vakum dengan hanya beberapa kali kicauan dan minim follower. Sebelumnya saya memang lebih aktif sebagai Facebooker, tapi sebatas pertemanan dengan rekan kerja serta teman-teman masa sekolah dan kuliah. Seiring makin ramainya diskusi tentang Fatin, dan untuk kebutuhan publikasi dukungan, akhirnya saya putuskan membuat akun twitter baru @Dody_Kasman yang ketika itu lebih konsen pada segala hal tentang Fatin.
Di Twitterland inilah saya kenal banyak tweeps pemerhati Fatin yang kemudian terkenal dengan sebutan Fatinistic. Terima kasih tak lupa saya sampaikan untuk adik-adik pemrakarsa nama Fatinistic, yang berdasarkan kisah yang sudah saya baca di Kompasiana sangat gigih mendukung dan mengawal langsung Fatin mulai masa Gala Show hingga jadi juara XFI.
Tapi Jika boleh saya tegaskan kembali bahwa Fatin kini bukan hanya milik kelompok tertentu. Demikian pula Fatinistic, tak terbatas usia, golongan atau seberapa mereka “merasa”dekat dengan Fatin, karena... Kita semua adalah Fatinistic. Kalaupun ada yang mengatasnamakan asal daerah, kesamaan hobby ataupun kesadaran karena usia yang sudah tak terbilang muda, itu membuktikan bahwa Fatin memang milik semua dan disukai semua kalangan. Keragaman penggemar inilah yang menjadi kekuatan Fatinistic untuk terus mensupport idolanya.
Interaksi masif di Twitter yang mempertemukan dan kemudian makin mempererat jalinan persaudaraan dengan sesama tweeps, khususnya teman-teman dari kelompok usia yang tak bisa dikatakan remaja lagi hingga kemudian muncul sebutan Fatininistic Jadul. Dan jalinan persaudaraan ini justru kian hari lebih dan makin luas lagi dengan tweeps yang lebih pantas jadi adik atau ponakan hingga beberapa fatinisitic yang mungkin lebih pantas saya panggil Pak Dhe dan Tante. Ya, berkat Fatin, saudara saya makin banyak dan saya sakin ini juga dialami teman-teman yang lain.
Berkat kebiasaan menulis di Kompasiana dan aktivitas di Twitter, yang awalnya juga karena Fatin, akhirnya sesuatu yang istimewa dan sama sekali tak pernah saya bayangkan justru saya alami. Pertama, tulisan saya tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  (setelah sekian lama selalu menulis tentang Fatin) mendapat respon. Tak lama kemudian akun Twitter saya juga di follback beliau. Kedua, dan ini yang paling istimewa, saya diundang @IstanaRakyat untuk hadir ke Istana Bogor menghadiri Kopdar Istura Perdana serta bertemu langsung dengan Presiden SBY.
Follback Presiden SBY dan undangan ke Istana itu benar-benar mengejutkan, pasalnya saya lebih sering menulis tentang Fatin daripada tentang Presiden SBY. Tapi ternyata Tuhan memang punya rencana istimewa, dan saya telah membuktikannya sendiri. Beberapa tulisan tentang Presiden SBY dan tweet serta mention kepada beliau mendapat apresiasi luar biasa yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Sudah pasti nikmat tak terkira tersebut merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri. Tentu saya juga harus berterimakasih kepada “tangan-tangan tak terlihat”, siapapun itu, yang ikut memungkinkan saya bisa sampai ke Istana disamping juga support keluarga dan para sahabat. Dan harus saya akui juga, sosok Fatin ikut berperan mengantar saya kesana, sebab semua memang juga berawal karenanya. Bahkan nama Fatin terbawa saat saya mengikuti kegiatan istimewa tersebut tanggal 5 Juli yang lalu.
Ya, nama Fatin ikut terbawa dan tersebut beberapa kali ketika itu. Saat sesi perkenalan masing-masing peserta kopdar, salah seorang pendamping yang juga Staf Kepresidenan secara tak terduga bertanya, “Sudah difollback Fatin Mas?”. Benar-benar sebuah pertanyaan singkat tapi sangat mengejutkan sebab saat itu saya sama sekali belum menyebut nama Fatin, meskipun sudah ada niatan untuk mempromote Fatin pada sesi yang pas, mengingat acara kopdar berlangsung seharian penuh hingga malam hari. Rupanya artikel di Kompasiana dan tweet serta mention tentang Fatin di TL terpantau dan terbaca!
Sekarang, ditengah ekspektasi publik kepada Fatin dengan beragam saran, masukan dan harapan terhadap penampilan dan segala sesuatu tentangnya, sebagai pemerhati yang telah “terbantu” oleh Fatin saya hanya bisa dan sangat ingin menyampaikan terima kasih. Walau belum bisa bertemu langsung, semoga ucapan terima kasih lewat tulisan ini suatu saat terbaca juga olehnya.
Terima kasih telah memperkenalkan dan mempersatukan kami dalam suatu ikatan persaudaraan, meskipun belum sempat saling bertatap muka langsung. Terima kasih untuk inspirasi yang mampu memotivasi untuk kembali menekuni aktivitas tulis menulis dan “twitteran” yang kemudian menjadi jalan menuju pencapaian terbaik (sejauh ini) dalam hidup saya. Terima kasih karena secara tak langsung ikut andil mempertemukan saya dengan orang nomor satu di negeri ini. Saya yakin, akan ada waktunya Fatin juga tampil di Istana seperti Maudy Ayunda, sebab nama Fatin sudah sempat terbawa kesana.
Dan tak berlebihan kiranya jika bangsa ini terutama generasi mudanya berterima kasih atas inspirasi yang telah diberikan Fatin. Di usia yang masih belia, berangkat dengan segala kesederhanaan dan keunikannya, ia mampu menorehkan prestasi membanggakan. Dengan popularitasnya saat ini, ia tetap teguh memegang akidahnya sebagai seorang muslimah sekaligus membuktikan bahwa hijab bukan halangan untuk berprestasi.
Apa yang telah dicapai Fatin hingga saat ini merupakan pembuktian bahwa kesederhanaan bukan halangan untuk menjadi luar biasa. Ia juga mampu membuktikan bahwa unik bisa membuatnya makin menarik. Fatin berangkat dari bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kemudian menjelma menjadi sosok remaja inspiratif serta fenomenal. Sekali lagi... Terima Kasih Fatin...

Probolinggo, 22 Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar