Kamis, 30 Januari 2014

“Simpati Oh Simpati” (Suatu Pengakuan untuk Fatin)



“Simpati” tiba-tiba menjadi kata yang ramai diperbincangkan dan diperdebatkan menyusul pernyataan Anggun, salah satu juri X Factor Indonesia (XFI) setelah mengomentari penampilan Fatin Shidqia Lubis. Pada penampilan keduanya di gala Show 9, Fatin berduet dengan Vina Panduwinata membawakan lagu “Logika”
Menurut Anggun, penampilan Fatin biasa-biasa saja, tapi simpati rakyat Indonesia yang besar membuatnya aman. "Kamu aman karena simpati publik. Simpatinya besar sekali dari masyarakat Indonesia," kata Anggun.
Komentar Anggun tersebut seolah menghapus pujian yang telah disampaikannya pada Fatin di penampilan-penampilan terdahulu. Seolah-olah Fatin hanya mengandalkan simpati rakyat Indonesia saja untuk bisa bertahan hingga sejauh  ini, tanpa memperhatikan karakter vokal, keunikan dan kelebihan lain yang dimiliki Fatin.
Jika kita kembali ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, disitu disebutkan definisi “simpati” adalah 1. rasa kasih; rasa setuju (kpd); rasa suka 2 keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain. Sedangkan di Wikipedia dijelaskan bahwa Simpati adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain.
Lebih lanjut dijelaskan di Wikipedia, dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Seseorang merasa simpati pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Jadi, betul jika simpati masyarakat Indonesia sangat besar untuk Fatin dan itu bukan tanpa alasan.
Saya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang tinggal Probolinggo simpati pada Fatin karena ia punya karakter vokal yang khas, unik, penampilannya sederhana, berjilbab, lucu dan yang jelas ia punya faktor X yang tak bisa saya jelaskan tapi mampu membuat saya betah berlama-lama menunggu penampilannya di TV meskipun sampai lewat larut malam.
Sekali lagi simpati masyarakat Indonesia yang menurut Anggun sangat besar itu bukan tanpa alasan. Masyarakat tentunya makin cerdas dan mampu memberikan penilaian mana yang memang layak untuk disuka dan mana yang harus diacuhkan. 
Masyarakat tentunya mampu mengapresiasi usaha yang dilakukan Fatin untuk bisa bertahan sampai sejauh ini, sebab bisa dikatakan ia berangkat dari bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dan yang pasti, masyarakat Indonesia yang simpati itu tentunya dalam keadaan sadar ketika mengungkapkan simpatinya dan tidak dalam pengaruh hipnotisme massa untuk suka pada Fatin.
Perlu saya sampaikan juga, saya penggemar Anggun bahkan sejak saya masih SMP dulu ketika dia populer dengan lagu “Tua-Tua Keladi”. Meminjam istilah Anggun, saya simpati padanya sejak saya masih SMP. Dan rasa simpati saya itu cukup beralasan.
Saya simpati karena ketika itu ia sudah menjadi lady rocker di usia belia, dan yang paling membikin saya simpati lagi penampilannya ketika itu apa adanya tanpa make up berlebih dan jauh dari kesan glamour . Bahkan konon ketika itu Anggun risih kalau harus dimake up.
Sebenarnya tak ada yang perlu dipusingkan dengan pernyataan Anggun yang sedikit bernada sentimen itu. Justru apa yang disampaikan Anggun menunjukkan betapa besar pengaruh Fatin di tengah masyarakat saat ini.
Pernyataan Anggun itu merupakan pengakuan bahwa Fatin memang telah menjadi sosok yang sedemikian populernya di negeri Indonesia Raya ini, bahkan melebihi anak didik Anggun sendiri. Bahkan pernyataan itu bisa jadi merupakan indikasi bahwa Fatin yang akan tampil sebagai juara, sebab Anggun berani membawa nama masyarakat Indonesia yang jumlahnya ratusan juta.

Probolinggo, 20 April 2013
Twitter : @Dody_Kasman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar