Kamis, 30 Januari 2014

“Fatin, Bagai David di Tengah Kepungan Goliath”



Saat ini siapa yang tak kenal Fatin Shidqia Lubis, nama ini mungkin bahkan lebih terkenal daripada acara X Factor Indonesia (XFI) yang mengorbitkannya. Fanbasenya di facebook bahkan lebih banyak disukai daripada fanbase XFI sendiri, di twitter followernya sudah menyamai followers XFI juga.
Karakter vokalnya yang kuat dan gayanya yang polos dan menggemaskan mampu membuat para juri terpukau dan jutaan rakyat Indonesia terpesona. Kini Jum’at malam menjadi malam yang paling dinanti hanya untuk menyaksikan penampilan dara berusia 16 tahun ini. Akan nyanyi lagu apa dia, bagaimana pakaiannya, bagaimana gerak tubuhnya dan bagaimana komentar para juri yang sampai “eker-ekeran”, menjadi magnet tersendiri yang sangat menarik untuk disimak.
Beragam kritikan para juri yang katanya sudah makan asam garam industri musik modern Indonesia, terlontar dan meluncur deras pada Fatin yang masih sangat belia dan hijau untuk urusan hingar bingar industri musik nasional. Tak jarang kritikan dan saran yang disampaikan terasa sangat “tinggi” dan berlebih untuk seorang amatir seperti Fatin yang baru belajar tampil tapi dituntut sempurna layaknya entertainer berpengalaman.
Tak dapat dipungkiri, Fatin memang masih sangat hijau, minim pengalaman dan amatir untuk urusan tampil menampil di panggung semegah X Factor. Jika dibandingkan dengan finalis yang lain, Fatin bisa diibaratkan David yang harus bertempur melawan Goliath, ya Goliath yang di XFI jumlahnya banyak. Tak hanya peserta tapi juga para juri (kecuali mentor) dan haters yang selalu menilai buruk penampilannya.
Dibanding peserta lain, Fatin memang yang paling tak berpengalaman. Sebut saja peserta termuda Mikha Angelo. Meski setahun lebih muda dari Fatin namun Mikha jauh lebih berpengalaman untuk urusan bernyanyi dan bermain musik. Mikha masih aktif ngeBand dengan saudara-saudaranya, keluarganyapun keluarga musik. Bahkan untuk pendidikan tingginya, Mikha memilih sekolah tinggi musik asing terkenal yang membuka cabang di Indonesia.
Apalagi jika dibandingkan dengan Novita Dewi, pengalaman mereka bagai langit dan bumi. Novita tercatat sebagai artis penyanyi salah satu label rekaman terkenal. Dia juga telah menelurkan beberapa album meskipun kurang laku. Bahkan ia pernah memenangi festival musik internasional. Alex Rudiart tercatat pernah menjadi vokalis band terkenal Sahara Band dan sempat rekaman juga. Sementara Agus, Shena, Gede, personel NuDi rata-rata adalah penyanyi cafe atau setidaknya pernah mengenyam latian vokal serius dan sempat bergelut di dunia musik profesional.
Sementara Fatin? Dia datang entah darimana. Ikut audisi masih berseragam sekolah dan berjilbab putih polos tanpa aksesori dengan gaya anak sekolah yang masih lugu dan malu-malu. Seperti anak tetangga yang biasa lewat depan rumah rame-rame dengan teman sebayanya. Dia mengaku tidak pernah latian vokal. “Nyanyi di kamar mandi”, begitu jawabnya polos saat audisi. Fatin juga mengaku baru pertama tampil menyanyikan lagu berbahsa Inggrus utuh saat audisi. Penampilannya di Showchase saat menyanyikan lagu Diamond diakuinya juga sebagai penampilan pertamanya di panggung denga jumlah penonton yang begitu banyak.
Bisa dibayangkan bagaimana tenakan mental yang dihadapi Fatin ketika itu, apalagi ia juga disaksikan jutaan rakyat Indonesia yang setia menanti penampilannya live di TV. Tapi terbukti, Fatin mampu menghadapi dan melewati itu semua. Dia sukses menyanyikan Diamond milik Rihanna dan Rumor Has It nya Adele. Meskipun sempat menurun penampilannya saat membawakan lagu Pudar milik mentornya dan kurang maksimal saat membawakan lagu Girl on Fire, namun penampilannya kembali bagus saat Gala Show 4 saat menyanyikan Don’t Speak kemarin (terserah Bebi Romeo & Anggun yang bilang salah pilih lagu).
Yang jelas, sebagai amatir Fatin mampu membuktikan bahwa dirinya bisa bersaing bahkan jauh lebih populer daripada peserta lain yang lebih berpengalaman. Fatin sudah bisa bergerak di panggung, nada-nada tinggi sudah bisa dicapainya dan kepercayaan dirinya perlahan mulai muncul. Fatin juga mampu menahan diri dan nampak relax saat beberapa juri mengkritiknya. Saat sang mentor emosi anak didiknya dikritik, Fatin justrtu tersenyum lucu.
Apa yang telah dilakukan Fatin untuk tampil lebih baik layak diapresiasi, tanpa harus mengesampingkan krtik tentunya. Dia mampu menunjukkan kepada rakyat Indonesia, bahwa keterbatasan yang dia miliki mampu ditutupinya dengan karakter suaranya yang sangat kuat dan khas, bahkan keterbatasan dan keamatiran itulah yang menarik simpati jutaan orang semakin penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang Fatin.
Silakan kritik Fatin dan beri dia saran yang membangun. Dia aset bangsa yang langka dan patut kita kawal agar dapat benar-benar menjadi contoh dan inspirasi generasi muda Indonesia. Minim pengalaman bukan berarti harus minder dan kalah dengan yang kaya pengalaman. Kemauan untuk mengoptimalkan keunikan yang dimiliki adalah modal kekuatan untuk sukses dan menjadi yang terbaik.

Probolinggo, 18 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar