Saat
ini siapa yang tak kenal Fatin Shidqia Lubis, nama ini mungkin bahkan lebih
terkenal daripada acara X Factor Indonesia (XFI) yang mengorbitkannya.
Fanbasenya di facebook bahkan lebih banyak disukai daripada fanbase XFI
sendiri, di twitter followernya sudah menyamai followers XFI juga.
Karakter
vokalnya yang kuat dan gayanya yang polos dan menggemaskan mampu membuat para
juri terpukau dan jutaan rakyat Indonesia terpesona. Kini Jum’at malam menjadi
malam yang paling dinanti hanya untuk menyaksikan penampilan dara berusia 16
tahun ini. Akan nyanyi lagu apa dia, bagaimana pakaiannya, bagaimana gerak
tubuhnya dan bagaimana komentar para juri yang sampai “eker-ekeran”, menjadi
magnet tersendiri yang sangat menarik untuk disimak.
Beragam
kritikan para juri yang katanya sudah makan asam garam industri musik modern
Indonesia, terlontar dan meluncur deras pada Fatin yang masih sangat belia dan
hijau untuk urusan hingar bingar industri musik nasional. Tak jarang kritikan
dan saran yang disampaikan terasa sangat “tinggi” dan berlebih untuk seorang
amatir seperti Fatin yang baru belajar tampil tapi dituntut sempurna layaknya
entertainer berpengalaman.
Tak
dapat dipungkiri, Fatin memang masih sangat hijau, minim pengalaman dan amatir
untuk urusan tampil menampil di panggung semegah X Factor. Jika dibandingkan
dengan finalis yang lain, Fatin bisa diibaratkan David yang harus bertempur
melawan Goliath, ya Goliath yang di XFI jumlahnya banyak. Tak hanya peserta
tapi juga para juri (kecuali mentor) dan haters yang selalu menilai buruk
penampilannya.
Dibanding
peserta lain, Fatin memang yang paling tak berpengalaman. Sebut saja peserta
termuda Mikha Angelo. Meski setahun lebih muda dari Fatin namun Mikha jauh
lebih berpengalaman untuk urusan bernyanyi dan bermain musik. Mikha masih aktif
ngeBand dengan saudara-saudaranya, keluarganyapun keluarga musik. Bahkan untuk
pendidikan tingginya, Mikha memilih sekolah tinggi musik asing terkenal yang
membuka cabang di Indonesia.
Apalagi
jika dibandingkan dengan Novita Dewi, pengalaman mereka bagai langit dan bumi.
Novita tercatat sebagai artis penyanyi salah satu label rekaman terkenal. Dia
juga telah menelurkan beberapa album meskipun kurang laku. Bahkan ia pernah
memenangi festival musik internasional. Alex Rudiart tercatat pernah menjadi
vokalis band terkenal Sahara Band dan sempat rekaman juga. Sementara Agus,
Shena, Gede, personel NuDi rata-rata adalah penyanyi cafe atau setidaknya
pernah mengenyam latian vokal serius dan sempat bergelut di dunia musik
profesional.
Sementara
Fatin? Dia datang entah darimana. Ikut audisi masih berseragam sekolah dan
berjilbab putih polos tanpa aksesori dengan gaya anak sekolah yang masih lugu
dan malu-malu. Seperti anak tetangga yang biasa lewat depan rumah rame-rame
dengan teman sebayanya. Dia mengaku tidak pernah latian vokal. “Nyanyi di kamar
mandi”, begitu jawabnya polos saat audisi. Fatin juga mengaku baru pertama
tampil menyanyikan lagu berbahsa Inggrus utuh saat audisi. Penampilannya di
Showchase saat menyanyikan lagu Diamond diakuinya juga sebagai penampilan
pertamanya di panggung denga jumlah penonton yang begitu banyak.
Bisa
dibayangkan bagaimana tenakan mental yang dihadapi Fatin ketika itu, apalagi ia
juga disaksikan jutaan rakyat Indonesia yang setia menanti penampilannya live
di TV. Tapi terbukti, Fatin mampu menghadapi dan melewati itu semua. Dia sukses
menyanyikan Diamond milik Rihanna dan Rumor Has It nya Adele. Meskipun sempat
menurun penampilannya saat membawakan lagu Pudar milik mentornya dan kurang
maksimal saat membawakan lagu Girl on Fire, namun penampilannya kembali bagus
saat Gala Show 4 saat menyanyikan Don’t Speak kemarin (terserah Bebi Romeo
& Anggun yang bilang salah pilih lagu).
Yang
jelas, sebagai amatir Fatin mampu membuktikan bahwa dirinya bisa bersaing bahkan
jauh lebih populer daripada peserta lain yang lebih berpengalaman. Fatin sudah
bisa bergerak di panggung, nada-nada tinggi sudah bisa dicapainya dan
kepercayaan dirinya perlahan mulai muncul. Fatin juga mampu menahan diri dan
nampak relax saat beberapa juri mengkritiknya. Saat sang mentor emosi anak
didiknya dikritik, Fatin justrtu tersenyum lucu.
Apa
yang telah dilakukan Fatin untuk tampil lebih baik layak diapresiasi, tanpa
harus mengesampingkan krtik tentunya. Dia mampu menunjukkan kepada rakyat Indonesia,
bahwa keterbatasan yang dia miliki mampu ditutupinya dengan karakter suaranya
yang sangat kuat dan khas, bahkan keterbatasan dan keamatiran itulah yang
menarik simpati jutaan orang semakin penasaran dan ingin tahu lebih banyak
tentang Fatin.
Silakan
kritik Fatin dan beri dia saran yang membangun. Dia aset bangsa yang langka dan
patut kita kawal agar dapat benar-benar menjadi contoh dan inspirasi generasi
muda Indonesia. Minim pengalaman bukan berarti harus minder dan kalah dengan
yang kaya pengalaman. Kemauan untuk mengoptimalkan keunikan yang dimiliki
adalah modal kekuatan untuk sukses dan menjadi yang terbaik.
Probolinggo, 18 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar