Kamis, 30 Januari 2014

Pemerhati yang Kangen Nulis (lagi) tentang Fatin



Sudah lebih 3 bulan saya tak menulis artikel tentang Fatin. Terakhir artikel berjudul “Fatin ternyata masih kerabat Michael Jackson” saya posting tanggal 1 September 2013. Setelah itu saya masih sempat menulis 2 artikel lagi diluar tema tentang Fatin hingga pertengahan Oktober. Selama itu juga hingga artikel ini diposting, hanya sesekali saya mengintip kanal hiburan Kompasiana. Selain karena kesibukan yang membuat waktu luang untuk menulis semakin berkurang, saya juga berpikir sudah banyak pemerhati dan penggemar setianya yang rajin menulis tentang remaja putri ajaib itu.  
Namun ternyata dugaan saya sedikit meleset setelah beberapa hari terakhir saya kembali mencoba mengintip kanal hiburan Kompasiana. Tulisan tentang Fatin yang dulu sangat mendominasi dengan jumlah pembaca dan komentator yang membuat para penulis bersemangat untuk terus menulis, kini hanya ada beberapa artikel tentang Fatin. Jumlah pembaca dan komentatornyapun tak mencapai angka ribuan seperti beberapa bulan yang lalu. Beberapa tulisan yang masih adapun banyak yang mempertanyakan sekaligus mengkritisi mengapa kanal hiburan Kompasiana yang dulu sempat menjelma menjadi “Fatinsiana”, kini kurang berwarna dengan berkurangnya artikel tentang Fatin.
Ada yang mengkritisi mungkin para pemerhati dan penggemar yang dulu rajin menulis tentang Fatin sudah mulai bosan, jenuh dan tak bisa menemukan hal-hal baru dan menarik dari Fatin yang bisa diangkat menjadi tulisan. Sebagai pemerhati setia Fatin, saya tetap mencoba berpikir positif menyikapi hal ini meskipun tak bisa dipungkiri kepedulian saya juga terusik untuk ikut kembali beropini meski mungkin baru bisa lewat satu tulisan ngelantur ini.
Dulu saat Fatin masih bertarung dalam ajang pencarian bakat X Factor Indonesia (XFI), penggemar dan pemerhati Fatin dibuat penasaran plus deg-degan dengan apa yang akan terjadi di setiap episodenya. Lagu apa yang akan dibawakan, bagaimana penampilannya, apakah tak lupa lirik lagi dan akankah Fatin bisa terus bertahan hingga Grand Final? Semua itu menjadi bahan diskusi menarik dan seolah tiada habisnya, tak hanya antar sesama penggemar Fatin tapi justru lebih seru dengan para pembencinya.
Usai gelaran XFI, setelah Fatin resmi terpilih sebagai juara, kita semua kembali dibuat penasaran dan bertanya-tanya bagaimana langkah Fatin selanjutnya. Bagaimana kiprahnya nanti di dunia musik tanah air bahkan internasional, kapan album Fatin keluar, seperti apa albumnya nanti, berapa banyak lagu berbahasa Inggris di album tersebut, dan masih banyak lagi pertanyaan serta pernyataan yang kembali menjadi bahan diskusi menarik. Ketika itu baru single Aku Memilih Setia yang release disusul single religi Kekasihmu. Dua single ini terutama AMS mampu mencuri perhatian penikmat musik tanah air.
Kepopuleran Fatin dengan AMSnya disusul dengan makin banyaknya permintaan untuk manggung di berbagai acara di berbagai daerah dan beberapa stasiun TV lokal. Dengan jadwal yang begitu padat, Fatin dibawah label Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI) juga mengerjakan album perdananya yang kemudian diberi judul “For You”. Tak hanya itu, entah memanfaatkan momentum atau memang tema cerita yang nyambung dengan sosoknya, Fatin ikut terlibat dalam pembuatan film 99 Cahaya di Langit Eropa yang kini juga sudah tayang di bioskop. Hampir setiap hari tulisan tentang Fatin baik berita maupun artikel menghiasi berbagai media terutama online.
Namun harus diakui, sebagai makhluk yang punya perasaan, kejenuhan pasti pernah dialami setiap orang. Hal yang sangat manusiawi. Apalagi jika dihadapkan pada aktivitas yang sama dan situasi yang cenderung stagnan minim dinamika. Apalagi jika apa yang sangat diidam-idamkan sudah tercapai dan bisa dinikmati. Kini album Fatin sudah bisa dinikmati, demikian pula dengan film yang memasangnya sebagai cameo sekaligus pengisi theme song. Fatin kembali disibukkan dengan promo album, nobar film serta show di sana-sini dengan berbagai pemberitaan yang mengikutinya.
Mungkin saat ini para pemerhati dan penggemar Fatin yang dulu terangsang untuk beropini akibat suasana yang belum pasti tentang bagaimana Fatin nanti, kini memilih untuk menikmati dan memantau apa yang telah dicapai Fatin dengan album dan filmnya sejauh ini. Ekspose pemberitaan aktivitas Fatin di berbagai media saat ini, yang pastinya merupakan strategi pemasaran label dan produser film, mungkin sudah cukup menjawab rasa ingin tahu bagaimana Fatin saat ini.
Tapi bukan berarti penggemar militan Fatin tinggal diam menikmati begitu saja. Sepinya artikel dengan berbagai komentarnya di Kompasiana bukan berarti mereka tak berbuat untuk Fatin. Rupanya saat ini mereka lebih memilih tindakan nyata daripada hanya berwacana. Setidaknya ini bisa dilihat dari antusiasme penggemar Fatin di beberapa acara yang dihadirinya, baik itu sekedar promo di gerai fried chicken yang memasarkan albumnya ataupun di berbagai show yang menghadirkannya.
Sebagai pemerhati Fatin yang masih kangen ingin selalu menulis tentangnya, saat ini saya lebih banyak memilih untuk menikmati dan mengapresiasi apa yang telah dicapai Fatin sejauh ini. Alhamdulillah, meskipun harus berjuang dan menunggu 2 minggu lebih, karena tak ikut pre order, akhirnya saya bisa memiliki dan menikmati CD album perdana Fatin. Di tempat saya tinggal tak ada toko kaset/CD besar, yang ada hanya lapak VCD/DVD kaki lima. Gerai ayam goreng resmi yang ditunjuk itu pun rupanya kebagian jatah kiriman CD belakangan. Demikian pula untuk menonton filmnya, mungkin saya harus mencari waktu yang tepat ke Surabaya atau Malang sebab di daerah tempat saya tinggal tak ada gedung bioskop kelas 21 apalagi XXI. 
Sebagai pemerhatinya saya juga punya beberapa harapan untuk Fatin dan pihak-pihak yang berkepentingan di sekelilingnya. Semoga Fatin terus memperbaiki penampilan dan tehnik vokalnya, mengurangi menyanyi lagu orang lain dan lebih mendalami lagu-lagu di albumnya . Lucu juga kalau sampai lupa lirik lagunya sendiri. Akan menjadi suatu nilai tambah jika ia mampu memainkan satu alat musik bahkan menciptakan lagu dan mengaransemennya sendiri. Di usianya yang masih sangat belia semua masih sangat mungkin terjadi. Mudah-mudahan Fatin juga lebih selektif menerima tawaran yang datang dengan tetap mempertimbangkan keterbatasannya sebagai manusia dan dampaknya pada kepuasan para penggemar atas penampilannya.
Semoga pihak label rekaman dan pihak lain yang berkepentingan juga bisa lebih bijak menyikapi popularitas Fatin saat ini dan tak menjadikannya sebagai komoditas untuk mengeruk keuntungan jangka pendek. Fatin punya potensi besar yang masih harus terus digali dan diasah untuk perkembangan kariernya yang masih panjang. Di usianya yang masih sangat muda dengan semua pencapaiannya hingga saat ini, Fatin masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk membuktikan eksistensinya di jagat hiburan tanah air bahkan mancanegara.
Dan akhirnya untuk rekan-rekan penggemar setia Fatin, terus support Fatin dengan cara yang elegan, santun dan bermartabat. Dukung Fatin secara wajar dan proporsional, tentunya bukan dukungan membabi buta dengan semua pembenarannya. Berikan kritik dan masukan yang membangun dan masuk akal untuk perkembangan karier Fatin ke depan, sebab akhirnya kita semua yang akan menikmati dan mengapresiasi hasil karya Fatin berikutnya. Kita tunggu saja.

Probolinggo, 7 Desember 2013
Follow me on twitter : @Dody_Kasman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar