Kamis, 30 Januari 2014

“Fatin, Hati-Hati Nyenggol Politik”



Popularitas Fatin Shidqia Lubis, jawara X Factor Indonesia (XFI) musim pertama tak perlu diragukan lagi. Saat ini segala sesuatu yang terkait dengannya baik sikap, perkataan, bahkan ulah fans kepadanya jadi menarik untuk diberitakan. Ia sanggup membangkitkan rasa ingin tahu banyak orang, membuat kita mencari kabar tentangnya kemudian menjadikannya bahan diskusi.
Saat ini apapun yang dilakukannya bisa jadi bahan berita. Apapun yang diucapkannya, meskipun bercanda akan menjadi berita besar. Seperti yang terjadi saat konsernya di Makassar, Minggu (16/6) kemarin. Saya sendiri tak hadir saat konser tersebut karena lokasinya yang sangat jauh dari tempat saya tinggal.
Dari yang dapat kita baca di berbagai media, khususnya media online, Fatin menyinggung tentang banyaknya spanduk bergambar dirinya terpampang dan mengkaitkannya dengan rencana kenaikan harga BBM. Search saja di google dengan kata kunci “Fatin BBM”, seketika muncul puluhan berita dengan judul nyaris seragam “Fatin Tolak Kenaikan Harga BBM”.
Bahkan untuk meyakinkan pembaca, beberapa media online tersebut kompak memuat kutipan pernyataan Fatin : "Mungkin bagus gambar-gambar saya tersebut ditambah tulisan, Fatin tolak kenaikan BBM,". Sumber kutipan ini bisa jadi berasal dari satu media yang kemudian dimuat media online yang lain. Setidaknya ini menunjukkan bahwa pernyataan Fatin itu mempunyai nilai berita tinggi dan berdampak politik cukup besar jika dipublikasikan.
Sepintas saya menganggap itu hanya gurauan Fatin untuk memancing keseruan suasana konser, tapi sebagai orang yang sering bersinggungan dengan kepentingan politik meskipun di level daerah, secara pribadi saya merasa terusik dan terpanggil untuk mengingatkan, setidaknya ikut memberikan sumbang saran. Bisa jadi ini hanya ulah media untuk menarik perhatian pembaca mengingat saat ini kenaikan harga BBM merupakan isu sensitif dan menyita perhatian publik.
Namun dibalik keterusikan saya, ada sedikit perasaan lega saat salah seorang Fatinistic Makassar yang menyaksikan langsung konser tersebut memberikan konfirmasi melalui twitter bahwa apa yang dimuat di media tidak sepenuhnya benar. Tidak sepenuhnya benar karena Fatin memang menyinggung tentang harga BBM.
Pernyataan Fatin dalam konser versi rekan yang menyaksikan langsung adalah sebagai berikut : "... dan aku liat di mana-mana lagi ada apa, spanduk-spanduk kampanye gitu yah hehe, terus ada tulisan turunkan harga BBM...hehe"
Jika kita perhatikan kutipan pernyataan tersebut, sama sekali tak ada pernyataan Fatin menolak kenaikan harga BBM. Jika dicermati lagi, itu murni pernyataan spontan remaja 16 tahun yang bangga gambarnya terpampang dimana-dimana. Fatin hanya latah mengucapkan “trending topic” saat ini : BBM.
Entah kutipan versi mana yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, yang jelas disini dapat kita lihat betapa besar dampak perkataan Fatin, walaupun itu hanya bercanda. Latahnya Fatin bicara BBM menarik untuk diberitakan setelah insiden fans “nekat” dan sukses konser itu sendiri. Meskipun usianya masih 16 tahun, tapi apa yang diucapkannya memiliki dampak politik sangat besar sebab yang disampaikannya adalah isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Dari kasus ini setidaknya Fatin bisa mengambil pelajaran berharga agar lebih berhati-hati mengeluarkan statement. Dia bukan lagi sekedar anak SMA bisa bebas bergokil ria dengan rekan-rekan sebayanya, tapi Fatin harus sadar bahwa ia sudah menjelma menjadi publik figur dengan jutaan penggemar fanatik. Apapan yang dilakukan dan diucapkannya akan selalu dipantau dan terpantau oleh penggemar dan media.
Ucapan yang menguntungkan untuk menarik simpati massa bisa menjadi peluang bagi kepentingan politik tertentu untuk memuluskan agendanya. Terlebih tahun ini dan tahun depan adalah tahun politik, dimana semua kekuatan politk yang ada sudah mulai menghimpun kekuatan mencari dukungan demi memuluskan kepentingan mereka. Belum lagi agenda politik didaerah seperti pemilihan Kepala daerah yang juga membutuhkan pencitraan dan mesin politik untuk menggaet massa.
Dalam kasus ini, Fatin harus mampu menjaga independensi dan tetap profesional dalam bidangnya. Jangan sampai popularitasnya dimanfaatkan kepentingan politik tertentu. Mungkin dalam jangka pendek menguntungkan dengan iming-iming materi yang besar, namun akan merugikan dalam jangka panjang. Sebagai publik figur, penggemar Fatin tentunya tak hanya berasal dari satu aliran politik saja. Keberpihakan secara terang-terangan pada satu golongan akan mengurangi simpati pihak yang lain.
Kepada partai politik yang sudah mulai memanasi mesin politiknya, hendaknya lebih arif dan bijak dalam berpolitik. Meskipun politik sangat sarat dengan kepentingan, tapi sebisa mungkin terapkan politik yang beretika. Hormati anak bangsa, generasi muda dengan bakat luar biasanya agar lebih bebas berekspresi dan berkreasi. Jangan jerumuskan mereka pada ranah yang sebenarnya tak mereka pahami. Jika memang butuh pencitraan untuk menarik simpati massa, manfaatkan para senior yang juga punya niat untuk terjun ke dunia politik. Manfaatkan mereka yang juga butuh tempat untuk mencari nafkah sekaligus mengembalikan popularitasnya.
Fatinistic sebagai massa pendukung Fatin harus mampu melindungi Fatin dari kepentingan-kepentingan yang dikhawatirkan dapat merugikan kariernya yang baru mulai ini. Sebagai warga negara kita semua, termasuk Fatin & Fatinistic punya hak politik yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Ada waktunya kita menggunakan hak tersebut, tentunya dengan cara yang santun tanpa memaksakan kehendak pada yang lain.
Dan alangkah baiknya, jika ditengah carut marut politik yang kian memanas ini, generasi muda seperti Fatin terus memberikan karya terbaiknya sebagai penyejuk untuk menghibur rakyat yang sedang gundah. Semoga di tengah situasi tak pasti ini Fatin mampu terus berprestasi dan menjadi inspirasi bagi remaja seusianya.


Probolinggo, 17 Juni 2013
Follow me : @Dody_Kasman
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar